Prabowo Resmikan B50, Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Mandatori Biodiesel 50 Persen

Presiden Prabowo Subianti memberikan amanat saat memimpin Upacara Peringatan Ke-80 Hari Bhayangkara Tahun 2026 di Lapangan Satuan Latihan Korps Brimob, Cikeas, Kabupaten Bogor, pada Rabu, 1 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Generasi.co, KARAWANG – Presiden Prabowo Subianto meresmikan penerapan mandatori Biodiesel B50 di SPBU Pertamina Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Dengan kebijakan tersebut, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan biodiesel dengan campuran 50 persen minyak sawit.

Peluncuran B50 menandai peningkatan pemanfaatan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari sebelumnya 40 persen (B40) yang telah diterapkan sejak awal 2025. Pemerintah menilai kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), memperkuat hilirisasi sumber daya alam, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.

“Dengan diluncurkannya program ini, Indonesia resmi menjadi negara di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyat sendiri,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, kemandirian energi merupakan salah satu fondasi utama keberlangsungan sebuah negara, selain kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan air.

“Ini adalah tonggak penting dalam perjalanan kemandirian energi. Kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan tiga hal. Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangan untuk rakyat. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki sumber energi sendiri tidak tergantung bangsa lain. Ketiga, mampukah negara itu juga memiliki sumber air,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun, meningkat dibandingkan penghematan sebesar Rp133,3 triliun saat penerapan B40.

“Dengan implementasi B50 ini kita tidak impor Solar lagi, ini pertama kali. Ini bukan kerjaan mudah, tetapi kami memaknai kebijakan ini sebagai bagian dari kedaulatan dan kemandirian energi bangsa,” ujar Bahlil.

Selain penghematan devisa, Bahlil menyebut penerapan B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri minyak sawit (CPO) menjadi Rp23,49 triliun dari Rp20,92 triliun pada B40. Kebijakan tersebut juga diproyeksikan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi karbon.

“B50 bukan hanya bahan bakar fosil dan nabati, tapi keputusan untuk rakyat bahwa Indonesia bisa berdiri di atas sumber daya sendiri,” katanya.

Berdasarkan paparan Kementerian ESDM, kebutuhan biodiesel atau FAME untuk program B50 meningkat menjadi 16,7-18 juta kiloliter dari 14,9 juta kiloliter pada B40. Kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) juga naik menjadi 15,2-16,3 juta ton dari sebelumnya 13,6 juta ton.

Sementara itu, potensi penurunan emisi gas rumah kaca diperkirakan mencapai 44,46 juta ton CO2, meningkat dibandingkan penurunan emisi sebesar 39,66 juta ton CO2 pada implementasi B40.

Mandatori B50 berlaku untuk berbagai sektor, mulai dari BBM bersubsidi di SPBU hingga sektor pertambangan, pertanian, perikanan dan kelautan, perkeretaapian, serta transportasi laut.

Untuk BBM bersubsidi, harga Biosolar B50 tetap Rp6.800 per liter atau sama dengan harga Solar subsidi yang berlaku saat ini. Perbedaannya terletak pada komposisi bahan bakar yang kini terdiri atas 50 persen minyak solar dan 50 persen biodiesel (FAME). Sementara itu, harga B50 non-subsidi akan mengikuti formula harga keekonomian yang ditetapkan pemerintah dan badan usaha.

Peresmian B50 turut dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, serta Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.