Puji Prabowo Hapus Tunggakan JKN, Sudaryono Kutip Gus Dur: Kemanusiaan Lebih Penting dari Politik

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/Pemrov Sumsel

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan penghapusan tunggakan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia menilai kebijakan ini sebagai bukti nyata bahwa negara hadir memprioritaskan nyawa di atas hitung-hitungan administratif.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menyebut masalah iuran macet selama ini telah menjadi beban mental bagi masyarakat kecil. Banyak warga yang terpaksa menahan sakit karena takut berobat dan dihadapkan pada tagihan yang menumpuk.

“Masalah iuran macet ini seringkali jadi beban mental yang bikin warga makin terpuruk dan takut berobat di layanan kesehatan. Presiden Prabowo paham betul kalau urusan nyawa tidak boleh digantungkan pada angka-angka yang memang tidak sanggup dibayar,” tulis Sudaryono, Rabu (11/2).

Kutipan Gus Dur: Kemanusiaan di Atas Politik

Politikus Partai Gerindra ini lantas teringat pesan mendalam dari Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang berbunyi, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”

Menurut Sudaryono, langkah pemerintah menghapus tunggakan JKN adalah terjemahan langsung dari prinsip tersebut. Kebijakan ini dianggap sebagai cara negara memanusiakan warganya dengan menyentuh aspek paling mendasar, yakni kesehatan.

“Pemerintah tidak mau lagi melihat ada warga yang merasa terisolasi dari layanan kesehatan karena merasa jadi beban,” tegasnya.

Negara Bukan Penagih

Dengan adanya kebijakan ini, Sudaryono optimistis pintu Puskesmas dan Rumah Sakit kini kembali terbuka lebar bagi masyarakat tanpa dihantui bayang-bayang utang masa lalu.

Ia menekankan bahwa ketika kesehatan terjamin, produktivitas masyarakat akan meningkat. Negara, kata dia, harus memposisikan diri sebagai pengayom, bukan sekadar administrator penarik iuran.

“Setiap keluarga di seluruh pelosok bisa hidup lebih tenang karena negara hadir sebagai pelindung, bukan penagih,” pungkas Sudaryono.