Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melontarkan pernyataan berapi-api terkait visi kedaulatan energi nasional. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menegaskan langkah radikal pemerintah untuk membalikkan konstelasi geopolitik energi global dengan memanfaatkan kekuatan kelapa sawit Indonesia.
Menguasai 60 persen pasokan bumi, Wamentan secara tegas menolak Indonesia terus dijadikan bulan-bulanan pasar internasional yang selama ini bebas mendikte harga bahan mentah.
Akhiri Pesta Pora Negara Asing
Selama bertahun-tahun, Indonesia dinilai terjebak dalam ironi sebagai negara pengekspor mentah. Jutaan ton sawit mengalir ke pelabuhan asing, membiarkan negara-negara lain berpesta meraup nilai tambah industri.
Melalui narasi kerasnya di media sosial, Sudaryono menyatakan bahwa pemerintah kini memutuskan untuk “memutar meja” dan mengambil alih kendali.
“Saya selalu membayangkan hamparan hijau sawit menyala sebagai benteng pertahanan negara. Sayangnya, bertahun-tahun kita terbiasa merelakan bahan mentah mengalir ke pelabuhan asing. Mereka berpesta mengolahnya, lalu menentukan harganya sesuka jidat. Kini saatnya memutar meja,” tegas Sudaryono dalam unggahan Instagram-nya.
B50 hingga B100: Tameng di Tengah Perang Timur Tengah
Langkah strategis memutar meja ini diwujudkan melalui percepatan pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar nabati dengan bauran B50 hingga B100. Sudaryono memproyeksikan tetesan minyak sawit ini akan menjadi tenaga penggerak utama mesin-mesin nasional.
Manuver ini sekaligus menjadi tameng pelindung super tebal bagi Indonesia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang kerap membuat harga minyak fosil global melambung liar. Dengan B50 dan B100, keran impor bahan bakar fosil akan ditekan sampai ke titik terendah.
“Ketika konflik melanda kawasan penghasil minyak Timur Tengah, harga energi global melambung liar. Namun, kita punya tameng pelindung super tebal. Melalui pengolahan B50 hingga B100, kita ubah tetesan minyak itu menjadi tenaga penggerak mesin nasional,” tulis Wamentan.
Mandat Tegas Prabowo: Asing Harus Mengemis Pasokan
Visi besar kedaulatan energi ini ditegaskan Sudaryono sebagai mandat langsung dan garis keras dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Menggandeng barisan petani sawit di seluruh pelosok negeri, Kementan memastikan arah kebijakan ini berjalan tegak lurus tanpa kompromi.
Pemerintah menargetkan, dengan mengunci pasokan sawit untuk kebutuhan energi domestik, dunia internasional yang selama ini bergantung pada Indonesia akan kelabakan mencari pasokan.
“Mandat Presiden Prabowo Subianto sangat tegas. Bersama barisan petani, saya memastikan visi besar ini berjalan tegak lurus. Jangan mau lagi didikte bangsa lain. Waktunya mereka memohon pasokan ke tempat kita,” pungkas Sudaryono.
Hilirisasi kelapa sawit di era Prabowo bukan lagi sekadar urusan neraca ekonomi, melainkan harga diri dan kedaulatan bangsa.










