Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menerima kunjungan kehormatan Ketua Majelis Nasional Korea Selatan, Woo Won-shik, beserta delegasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (22/01).
Pertemuan ini menjadi momentum strategis untuk mempertegas hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin lebih dari setengah abad.
“Pertemuan ini menunjukkan persahabatan dan keakraban yang sangat kuat antara Republik Indonesia dan Korea Selatan yang sudah terjalin selama 53 tahun dan terus berkembang dengan sangat baik,” ujar Ahmad Muzani.
Mitra Strategis di G20 dan APEC
Muzani menekankan bahwa Indonesia dan Korea Selatan memiliki posisi vital di kancah global sebagai anggota G20 dan APEC. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, ia menilai kerja sama antarparlemen menjadi kunci menjaga stabilitas kawasan.
“Dalam situasi global yang semakin tidak menentu… peran pimpinan parlemen sangat penting untuk memastikan hubungan antarnegara tetap terjaga dengan baik dan saling menguntungkan,” jelas Sekjen Partai Gerindra tersebut.
Selain isu ekonomi dan investasi, Muzani juga menyinggung aspek budaya (people to people contact). Popularitas budaya Korea di Tanah Air dinilai sebagai modal sosial berharga untuk mempererat persahabatan kedua bangsa.
Korsel: Indonesia Sahabat Istimewa
Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Korea Selatan, Woo Won-shik, menyebut Indonesia sebagai mitra strategis utama. Ia mengungkapkan saat ini terdapat 2.300 perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia, mulai dari sektor pertahanan hingga kendaraan listrik.
“Indonesia adalah sahabat istimewa Korea Selatan. Kepercayaan ini tercermin dalam kerja sama industri, termasuk pertahanan dan kendaraan listrik,” kata Woo Won-shik.
Ia juga mengapresiasi peran MPR RI dalam menjaga stabilitas politik dan integrasi nasional. Komposisi pimpinan MPR yang berasal dari lintas partai dinilai sebagai bukti inklusivitas demokrasi Indonesia.
Turut hadir mendampingi Muzani dalam pertemuan tersebut para Wakil Ketua MPR RI, antara lain Bambang Wuryanto, Eddy Soeparno, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Abcandra Muhammad Akbar Supratman.










