Kontroversi Menteri Malaysia: Tembak Sapi Kurban Pakai Senapan Berburu Tuai Kecaman

Kepala Menteri Perlis, Abu Bakar Hamzah/Free Malaysia Today

Sebuah insiden penembakan sapi kurban oleh seorang pejabat negara bagian di Malaysia memicu gelombang kontroversi dan kemarahan publik. Kepala Menteri Perlis, Abu Bakar Hamzah, kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian usai sebuah video viral berdurasi 38 detik beredar di media sosial, menunjukkan dirinya menembak seekor sapi kurban dengan senapan pada perayaan Idul Adha.

Aksi tersebut memicu perdebatan panas terkait aturan penyembelihan kurban, kesejahteraan hewan, hingga etika penggunaan senjata api oleh pejabat publik.

Penyitaan Senjata dan Ancaman Pidana

Menindaklanjuti kegaduhan tersebut, polisi di Perlis—negara bagian kecil yang berbatasan dengan Thailand—telah turun tangan.

  • Pihak kepolisian menyita senapan yang diyakini digunakan oleh Abu Bakar dalam insiden di Kuala Perlis pada Kamis (28/5).
  • Kepala Polisi Kangar, Yusharifuddin Mohd Yusop, pada Sabtu (30/5) mengonfirmasi bahwa selain senapan, petugas juga menyita sembilan butir amunisi peluru dan telah mencatat pernyataan dari Abu Bakar.
  • Meskipun hasil pemeriksaan memastikan bahwa Abu Bakar memiliki izin senjata api yang sah, polisi tetap menyelidiki kasus ini menggunakan Pasal 39 Undang-Undang Senjata Malaysia 1960, yang secara spesifik mengatur penggunaan senjata api di tempat umum.
  • Berdasarkan aturan tersebut, pelaku terancam hukuman penjara hingga satu tahun, denda maksimal 2.000 ringgit (sekitar US$504), atau kombinasi keduanya.

Klaim Sapi Agresif dan Pembelaan Diri

Di tengah kritik yang mengalir deras, Abu Bakar secara terbuka membela tindakannya. Ia beralasan bahwa sapi tersebut sempat lepas dan menunjukkan perilaku agresif selama upacara berlangsung.

  • Mengutip laporan Free Malaysia Today, Abu Bakar menyatakan, “Saya tidak menembak sapi itu untuk bersenang-senang. Sapi itu menjadi agresif”.
  • Ia mempertanyakan siapa pihak yang akan bertanggung jawab apabila hewan tersebut dibiarkan dan akhirnya menanduk seseorang hingga tewas.
  • Melalui laporan surat kabar The Star, Abu Bakar juga mengklarifikasi di media sosial bahwa tembakan itu hanya diarahkan ke area paha atas untuk melumpuhkan pergerakan hewan, bukan bertujuan untuk membunuhnya.
  • Setelah hewan tersebut jatuh akibat tembakan, sapi itu kemudian disembelih “seperti biasa”.
  • Dalam unggahannya, ia juga menekankan bahwa dirinya secara pribadi telah menyembelih 25 ekor sapi sebagai bagian dari ibadah Idul Adha.

Kecaman Publik dan Pandangan Tokoh Agama

Insiden ini dengan cepat membelah opini masyarakat di media sosial Malaysia.

  • Sebagian pihak membela Abu Bakar dengan anggapan ia bertindak untuk melindungi keselamatan orang-orang di sekitarnya.
  • Namun, sebagian lainnya menuduh tindakan tersebut sebagai bentuk kekejaman.
  • Banyak warganet yang melontarkan pertanyaan kritis, seperti mempertanyakan mengapa seorang pejabat membawa senjata api ke acara publik, hingga keabsahan tindakan menembak meskipun memiliki izin resmi.
  • Beberapa pihak juga mempertanyakan apakah sapi yang ditembak tersebut masih berstatus halal.

Menjawab keraguan terkait kehalalan, Mufti Perlis, Mohd Asri Zainul Abidin, memberikan penjelasan berdasarkan media lokal. Menurutnya, hewan ternak yang halal namun kondisinya terlalu berbahaya atau sulit ditangkap untuk proses penyembelihan, diperbolehkan untuk dijinakkan atau ditembak terlebih dahulu.

Kritik Tajam dari Anggota Parlemen

Klarifikasi mengenai agresivitas sapi dibantah keras oleh Anggota Parlemen Jelutong, Sanisvara Nethaji Rayer (RSN Rayer).

  • Rayer mempertanyakan alasan mendasar mengapa Abu Bakar membawa senjata api ke sebuah acara keagamaan.
  • Berdasarkan pengamatannya terhadap video viral tersebut, sapi justru terlihat berdiri diam di area yang terbuka.
  • Tidak ada seorang pun yang terlihat berada di dekat sapi tersebut, dan hewan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang siapa pun atau kerumunan orang.
  • “Jadi mengapa Abu Bakar menembak sapi itu?” kecam Rayer dalam pernyataannya pada Sabtu (30/5).
  • Ia mendesak pihak kepolisian untuk terus melakukan penyelidikan mendalam dan mempertimbangkan untuk menangkap pemimpin Perlis tersebut.

Untuk menjaga kondusivitas, pihak kepolisian mengimbau masyarakat luas agar tidak menyebarkan spekulasi dan memperingatkan bahwa tindakan tegas akan dijatuhkan terhadap segala bentuk perilaku yang berpotensi mengancam ketertiban umum.