Mardani Ali Sera: Data Baseline, Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis

Foto: Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera (kanan), saat bertukar cenderamata usai BKSAP Day di Institut Pertanian Bogor (IPB). (dpr.go.id)
Foto: Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera (kanan), saat bertukar cenderamata usai BKSAP Day di Institut Pertanian Bogor (IPB). (dpr.go.id)

Mardani Ali Sera menekankan pentingnya data baseline dalam program makan bergizi gratis. Dengan anggaran Rp450 triliun untuk 81 juta jiwa, pendekatan berbasis data dan diplomasi strategis diperlukan untuk memastikan keberhasilan program.

Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera, menegaskan pentingnya penyusunan data baseline sebelum pelaksanaan program makan siang bergizi yang dicanangkan pemerintah.

Data ini dianggap krusial untuk memastikan efektivitas program dapat diukur dengan akurat.

Program makan bergizi gratis ini tidak hanya ditujukan untuk menyediakan makanan bagi anak-anak.

Akan tetapi juga bertujuan memenuhi kebutuhan gizi mereka sebagai bagian dari investasi jangka panjang pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.

Peran Data Baseline dalam Keberhasilan Program

Dalam acara BKSAP Day di Institut Pertanian Bogor (IPB) bertema Memperkuat Diplomasi Indonesia untuk Ketahanan Pangan dan Gizi pada Senin (25/11/2024), Mardani menyoroti perlunya pendekatan berbasis data.

“Untuk keberhasilan program ini, data baseline sangat penting. Dengan adanya data yang solid, kita dapat mengukur efektivitas program dan memastikan program berjalan sesuai harapan,” ungkap Mardani.

Data baseline diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi awal, termasuk tingkat gizi, status kesehatan, dan kebutuhan spesifik penerima manfaat.

Data ini juga menjadi acuan dalam memonitor dan mengevaluasi dampak program terhadap masyarakat.

Diplomasi Jalur Kedua untuk Mendukung Program

Mardani, yang juga politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menekankan pentingnya peran diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) untuk mendukung keberhasilan program makan bergizi.

Program ini mencakup hingga 81 juta penduduk dengan anggaran besar, mencapai Rp450 triliun.

Angka ini setara dengan dua setengah kali jumlah penduduk Malaysia atau Singapura.

“Dengan skala sebesar ini, pendekatan berbasis riset dan data akurat sangat penting untuk memastikan keberhasilannya.”

“Diplomasi jalur kedua dapat memainkan peran penting dalam membangun kerja sama internasional dan menarik sumber daya untuk mendukung program ini,” kata Mardani.

Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis

Mardani menyebut program makan bergizi gratis tidak hanya berdampak pada kesehatan dan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek positif terhadap ekonomi lokal.

Beberapa manfaat yang diharapkan dari program ini meliputi:

  1. Peningkatan Gizi Anak: Program ini membantu mengurangi angka malnutrisi dan stunting, terutama di kalangan anak-anak.
  2. Mendorong Ekonomi Masyarakat: Melibatkan petani lokal dan UMKM dalam penyediaan bahan makanan dapat memperkuat rantai pasok pangan domestik.
  3. Pembangunan SDM: Gizi yang baik pada masa pertumbuhan akan menciptakan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Keberhasilan Ditentukan oleh Perhatian pada Detil

Mardani mengingatkan bahwa kesuksesan program berskala besar ini tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh pengelolaan detil-detil kecil yang sering diabaikan.

“Ada pepatah, the devil is in the details. Setiap elemen, sekecil apa pun, harus dikelola dengan teliti dan cermat,” ujar Mardani.

Ia menambahkan, tanpa pengelolaan yang baik, program besar seperti ini berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

Diplomasi dan Sinergi Multisektor untuk Ketahanan Pangan

Mardani juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dalam mendukung program ketahanan pangan dan gizi.

Dengan menggunakan data yang tepat, diplomasi yang strategis, dan kolaborasi lintas sektor, program makan bergizi dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membangun generasi emas Indonesia.

Data Baseline sebagai Fondasi Utama

Penyusunan data baseline bukan hanya langkah awal, tetapi juga elemen kunci dalam keberhasilan program makan bergizi gratis.

Dengan data yang solid, pemerintah dapat memonitor dan mengevaluasi dampak program, memastikan efisiensi anggaran, serta menjawab kebutuhan masyarakat dengan lebih tepat.

Mardani optimis bahwa dengan pendekatan berbasis data, diplomasi yang kuat, dan perhatian pada detail, program ini dapat membawa Indonesia menuju pencapaian Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

(BAS/Red/dpr.go.id)