Tinjau Irigasi di Ngawi, Ibas Tegaskan Modernisasi Air Sebagai Kunci Kedaulatan Pangan Nasional

Wakil Ketua MPR RI Ibas meninjau program irigasi di Kedunggalar, Ngawi, dan menegaskan irigasi sebagai kunci ketahanan pangan nasional/MPR RI

NGAWI — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY), melanjutkan rangkaian masa Reses 2026 dengan meninjau langsung infrastruktur irigasi di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, pada Kamis (26/2/2026).

Dalam kunjungannya, Ibas menekankan bahwa irigasi bukan sekadar proyek teknis infrastruktur, melainkan urat nadi bagi pertanian dan strategi utama pencapaian kedaulatan pangan nasional.

“Sore ini saya hadir untuk satu pesan sederhana: air adalah kehidupan. Irigasi adalah nadi pertanian,” ujar Ibas di hadapan para petani dan warga setempat.

Irigasi: Amanat Konstitusi dan Dongkrak Produktivitas Ibas memaparkan bahwa lebih dari 70% produksi padi nasional sangat bergantung pada sistem irigasi yang baik. Dari total 7 juta hektare lahan irigasi di Indonesia, masih banyak yang membutuhkan rehabilitasi dan modernisasi.

Secara matematis, perbaikan irigasi memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan. “Setiap peningkatan efisiensi irigasi 10% dapat menaikkan produktivitas padi hingga 5–8%. Artinya, ini adalah strategi kedaulatan pangan,” tegasnya.

Pengelolaan air ini, lanjut Ibas, juga merupakan amanat langsung dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk menjaga ketersediaan air demi kemakmuran petani. “Tidak ada panen tanpa irigasi. Tidak ada kesejahteraan tanpa air,” tambahnya.

Tantangan di Lumbung Pangan Ngawi dan Kelestarian Lingkungan Sebagai salah satu lumbung pangan andalan di Jawa Timur, Ngawi memegang peran strategis dalam menopang ketahanan pangan nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun, Ibas juga menyoroti berbagai tantangan di lapangan yang harus segera diatasi, antara lain:

  • Sedimentasi atau pendangkalan saluran air.
  • Kebocoran pada tanggul-tanggul penahan.
  • Kerusakan pada infrastruktur pintu air.
  • Distribusi air yang belum merata ke seluruh lahan garapan.

Di samping infrastruktur, Ibas mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, mengingat air yang mengalir ke sawah berasal dari alam yang sehat. Ia turut menyinggung keberadaan Museum Trinil di Ngawi sebagai warisan sejarah dan ilmiah kebanggaan daerah yang lingkungan sekitarnya wajib dijaga kelestariannya untuk generasi mendatang.

Dorong Modernisasi dan Keterlibatan Generasi Muda Ke depannya, Ibas mendorong agar sistem irigasi di Indonesia mulai bertransformasi menuju era modern. Beberapa inovasi yang ia dorong meliputi:

  • Penggunaan digital monitoring untuk memantau ketersediaan air.
  • Penerapan pintu air otomatis.
  • Pemetaan debit air berbasis data yang presisi.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian. “Yang menguasai air, menguasai masa depan. Pertanian hari ini harus presisi, berbasis data, dan melibatkan anak muda,” pesannya. Selain itu, ia mendukung penuh penguatan Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) sebagai garda terdepan pengelolaan irigasi yang mengedepankan asas gotong royong.

Bantuan Sosial di Bulan Suci Dalam suasana bulan Ramadan yang penuh berkah, Ibas mengajak masyarakat untuk merefleksikan pentingnya air. “Ramadan mengajarkan kita menahan haus. Petani setiap hari merasakan pentingnya air. Maka pengelolaan air harus adil dan berpihak,” tuturnya.

Kunjungan reses ini juga diisi dengan kegiatan sosial berupa penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat setempat. Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh daerah, di antaranya:

  • Dr. Arshad Ragandhi, S.IP., M.Si. (Camat Kedunggalar)
  • Ali Imron (Kepala Desa Kawu)
  • Muhammad Eko Sudaryanto (Ketua P3-TGAI)
  • Haris Agus Susilo & Arofiq (Anggota DPRD Ngawi)

Menutup kunjungannya, Ibas menegaskan komitmennya di tingkat pusat untuk terus mengawal anggaran rehabilitasi jaringan irigasi agar tepat sasaran melalui kolaborasi antara pusat dan daerah.

“Jika irigasi lancar, petani tenang. Jika petani tenang, panen makmur. Jika panen makmur, rakyat bahagia. Ramadan religi, menguatkan negeri,” tutup Ibas.