Tragedi Bekasi Timur: KNKT Bongkar Blunder Transmisi Sopir Taksi yang Baru Kerja 3 Hari

Taksi Green SM/IG

Jakarta, Generasi.co — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan temuan mencengangkan terkait penyebab awal mandeknya taksi listrik Green SM di tengah rel, yang menjadi pemicu utama kecelakaan beruntun di Stasiun Bekasi Timur. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan keheranannya atas tindakan sang pengemudi, Richard Rudolf Passelima, yang berulang kali melakukan kesalahan fatal dalam mengoperasikan transmisi mobil sesaat sebelum kecelakaan terjadi.

Fakta mengejutkan ini diunduh langsung dari data onboard unit (rekaman komputer internal mobil) dan dipaparkan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Kronologi Kepanikan Sopir: Injak Gas di Posisi ‘N’ dan ‘P’

Berdasarkan data digital yang dianalisis KNKT, taksi tersebut awalnya berjalan normal di posisi D (Drive) dengan kecepatan 15 km/jam di jalur menurun menuju perlintasan. Namun, mendekati rel sebidang, keanehan sistemik akibat kepanikan pengemudi mulai terjadi.

Berikut adalah rentetan tindakan keliru dari pengemudi yang terekam oleh sistem mobil:

  • Pindah ke N (Netral): Secara tiba-tiba, sopir memindahkan transmisi ke posisi N di jalan menurun, membuat mobil meluncur tanpa tenaga dengan kecepatan drop ke 3–7 km/jam sambil mengerem ringan.
  • Mogok di Tengah Rel: Begitu tiba di atas rel, pengemudi panik karena mobil kehilangan momentum. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, mulai dari 25 persen hingga naik ke 55 persen. Namun, karena tuas masih di posisi N, mesin hanya meraung tanpa menyalurkan tenaga ke roda hingga kecepatan mobil menyentuh 0 km/jam (berhenti total).
  • Blunder Posisi D (Drive): Pada pukul 20.46.43 WIB, sopir sempat memindahkan tuas kembali ke posisi D. Tragisnya, di saat posisi transmisi sudah benar, ia justru sama sekali tidak menginjak pedal gas.
  • Terkunci Total di Posisi P (Park): Di puncak kepanikannya, Richard memindahkan transmisi ke posisi P (Park). Dalam kondisi mobil terkunci untuk parkir ini, ia berulang kali menginjak gas, rem, dan menekan tombol on-off secara acak. Alhasil, taksi listrik tersebut mengunci mati di tengah rel kereta.

“Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off, on-off, tapi selalu dalam posisi P. Sehingga mobil tidak bisa bergerak,” ujar Soerjanto dalam rapat DPR.

Baru Kerja 3 Hari dan Minim Edukasi Sistem ‘Error’

Mendengar keanehan fatal tersebut, KNKT kemudian menelusuri latar belakang sang sopir. Terungkap fakta bahwa Richard Rudolf Passelima merupakan pekerja yang baru saja direkrut oleh manajemen Green SM melalui sebuah bursa kerja (job fair).

Nahasnya, saat kecelakaan maut itu terjadi pada Senin (27/4/2026) lalu, Richard baru bekerja selama 3 hari. KNKT menyoroti minimnya masa orientasi dan pelatihan teknis kedaruratan yang diberikan kepada pengemudi baru kendaraan listrik tersebut.

  • Pelatihan Instan: Richard hanya menerima kelas teori singkat mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, pengenalan lampu indikator, tombol transmisi, dan penggunaan sabuk pengaman.
  • Tanpa Mitigasi Darurat: “Tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error,” tegas Soerjanto.
  • Masalah Desain Fisik: KNKT juga menambahkan faktor eksternal di mana lampu indikator penunjuk tombol transmisi (knob) pada armada mobil tersebut sangat sulit dilihat dengan jelas oleh mata pengemudi pada siang hari.

Awal Mula Efek Domino Tragedi

Kepanikan berujung salah pindah gigi ini langsung memicu rentetan kecelakaan fatal malam itu. Setelah taksi Green SM terjebak di tengah rel, KRL rute Cikarang-Jakarta datang menghantam taksi tersebut pada pukul 20.48 WIB.

Insiden pertama ini langsung memancing kerumunan warga yang penasaran untuk mendekat ke area rel. Akibat kerumunan massa yang membahayakan di jalur hulu tersebut, KRL 5568A dari arah berlawanan (Jakarta-Cikarang) terpaksa berhenti darurat tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Di saat KRL penuh penumpang itu berhenti, KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang gagal melakukan pengereman maksimal akibat salah instruksi pusat kendali, dan langsung menghantam KRL tersebut dari belakang.