Jakarta — Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono akhirnya angkat bicara menanggapi narasi yang dibangun dalam film dokumenter Pesta Babi. Film yang belakangan ramai diperbincangkan publik tersebut menuding bahwa proyek cetak sawah (pembukaan lahan pertanian baru) justru membawa kesengsaraan bagi warga setempat.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono meluruskan fakta-fakta di lapangan secara terbuka dan logis terkait kompleksitas proyek cetak sawah, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah dan Papua Selatan.
Tata Kelola Air Lebih Rumit dari Urusan Benih
Wamentan menegaskan bahwa membuka hamparan rawa basah menjadi lahan pertanian produktif bukanlah perkara instan. Jika urusan logistik seperti benih, pupuk, dan pestisida relatif mudah disiapkan, maka tantangan terbesarnya justru terletak pada manajemen hidrologi.
“Bertani padi bertumpu pada tata kelola air. Benih, pupuk, maupun pestisida gampang disiapkan. Tetapi mengatur air butuh proses amat panjang,” terang Sudaryono.
Bukan Infrastruktur Instan: Sawah Butuh Adaptasi Alam
Untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada publik, Sudaryono membuat analogi yang membandingkan proyek cetak sawah dengan pembangunan infrastruktur fisik pada umumnya.
Menurutnya, cetak sawah adalah pekerjaan konstruksi berat yang sangat bergantung pada ritme alam, sehingga hasilnya tidak bisa dinikmati dalam semalam.
| Aspek Pembanding | Infrastruktur Fisik (Jalan Tol/Rumah Sakit) | Proyek Cetak Sawah Baru |
| Waktu Penggunaan | Langsung bisa diakses/digunakan setelah fisik selesai dibangun. | Tidak bisa langsung dipanen; butuh adaptasi ekosistem alami. |
| Fokus Pekerjaan | Konstruksi material buatan (aspal, beton, baja). | Rekayasa tata kelola air rawa dan pemulihan unsur hara tanah. |
| Siklus Optimal | Hitungan hari setelah peresmian. | Membutuhkan waktu 1 hingga 4 tahun hingga panen optimal. |
“Selesai diaspal, jalan tol bisa langsung dilintasi mobil. Sawah baru butuh perlakuan beda. Hari ini tanah dikeruk, besok ditanami, lusa tak lantas panen puluhan ton. Alam punya ritme sendiri,” tegasnya.
Tepis Isu Sengsarakan Warga, Beberkan Bukti Pemberdayaan
Terkait kritik dalam film Pesta Babi yang menyebut proyek ini menyengsarakan masyarakat lokal, Sudaryono menyatakan bahwa pemerintah selalu terbuka terhadap masukan. Namun, ia meminta publik untuk melihat rekam jejak nyata di lapangan.
Alih-alih meminggirkan warga, pemerintah pusat justru melakukan intervensi pemberdayaan secara masif. Berikut adalah wujud komitmen pemerintah kepada masyarakat setempat di area cetak sawah:
- Pemberian Insentif: Dukungan finansial dan subsidi bagi petani lokal yang terlibat.
- Pelatihan Intensif: Edukasi budi daya pertanian modern di lahan rawa untuk mengubah kebiasaan bertani tradisional menjadi lebih produktif.
- Mekanisasi Pertanian: Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern untuk meringankan beban kerja fisik warga.
- Distribusi Benih Unggul: Penyediaan varietas benih padi yang telah disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah rawa.
Pernyataan Wamentan Sudaryono ini diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih berimbang bagi publik dalam melihat dinamika proyek ketahanan pangan nasional yang tengah digenjot oleh pemerintah.










