Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa kinerja seorang pejabat negara tidak seharusnya diukur dari seberapa sering wajahnya muncul di media sosial atau seberapa tinggi posisinya dalam survei popularitas.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono membela Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Menurutnya, meski Amran mungkin tidak masuk dalam jajaran menteri paling populer di mata publik umum, ia memiliki tempat istimewa di hati para petani.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Sudaryono menyebut bahwa petani tidak membutuhkan sosok pemimpin yang bergaya selebritis, melainkan pemimpin yang mampu menjamin ketersediaan kebutuhan dasar pertanian.
“Urusan pertanian itu bukan soal viral atau tebar pesona di depan kamera. Petani kita tidak butuh pejabat selebritis,” tegas Sudaryono, Jumat (16/01).
Kerja Tanpa ‘Bla-bla-bla’
Sudaryono menjelaskan bahwa indikator kepuasan yang sejati datang dari mereka yang merasakan langsung kebijakan di sawah dan ladang. Petani, kata dia, lebih mementingkan ketersediaan pupuk saat musim tanam, irigasi yang lancar, dan harga gabah yang stabil saat panen raya ketimbang popularitas pejabat di media.
Sebagai orang yang sering mendampingi Mentan di lapangan, Sudaryono bersaksi bahwa Amran adalah tipe pemimpin eksekutor yang lebih sering terlihat berlumpur di lapangan daripada bersolek di media sosial.
“Saya melihat bagaimana beliau bekerja tanpa bla bla bla, membereskan masalah pangan dari akarnya. Beliau tipe eksekutor. Inilah contoh mental pejabat yang benar-benar melayani, bukan dilayani,” ujarnya.
Ia pun berharap Indonesia memiliki lebih banyak figur pemimpin dengan mentalitas serupa—yang berani tidak populer di mata pengamat politik, asalkan dicintai oleh rakyat yang diurusnya.
“Biarkan hasil panen yang bicara, bukan sekadar kata-kata,” pungkasnya.










