Ultimatum Prabowo: Maksimal 3 Tahun Lagi Indonesia Haram Impor BBM, 13 Pembangkit Diesel Segera Disuntik Mati!

Presiden Prabowo Subianto menggelar Rapat Kerja Pemerintah bersama anggota Kabinet Merah Putih, seluruh pejabat Eselon I kementerian/lembaga, serta Direktur Utama BUMN di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 8 April 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Magelang, Generasi.co — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mematok target radikal untuk mencapai kemerdekaan energi secara absolut. Kepala Negara menegaskan bahwa dalam waktu maksimal dua hingga tiga tahun ke depan, Indonesia harus sepenuhnya menghentikan keran impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Pernyataan lugas nan ambisius tersebut dilontarkan Prabowo saat meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial listrik di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026).

“Mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan, kita tidak perlu mengimpor bahan bakar sama sekali,” tegas Prabowo mengultimatum jajaran pemerintahannya.

Suntik Mati Pembangkit Boros, Hemat 200 Ribu Barel Sehari

Untuk mengeksekusi target tersebut, pemerintah telah menyiapkan manuver taktis berskala raksasa. Kunci utamanya adalah program percepatan elektrifikasi nasional sebesar 100 gigawatt (GW) yang ditargetkan rampung hanya dalam kurun waktu dua tahun.

Langkah perdananya adalah melakukan pemensiunan dini atau ‘suntik mati’ terhadap 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PT PLN yang selama ini menjadi lintah penyedot BBM dalam jumlah masif.

Kalkulasi di atas kertas menunjukkan, penutupan operasional belasan PLTD tersebut akan menghemat konsumsi solar hingga 200.000 barel per hari. Mengingat total impor BBM Indonesia saat ini bertengger di angka 1 juta barel per hari, intervensi tunggal ini secara otomatis akan memangkas ketergantungan impor langsung sebesar 20 persen.

Avtur dari Minyak Jelantah dan Genjot Produksi Bus Listrik

Selain mematikan pembangkit boros BBM, pemerintah tancap gas mengadopsi ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Di sektor bahan bakar alternatif, negara sedang menggodok percepatan hilirisasi kelapa sawit dan pengolahan limbah minyak goreng (minyak jelantah) untuk disulap menjadi bahan bakar avtur pesawat terbang.

Presiden Prabowo memastikan, negara siap menggelontorkan nilai investasi raksasa untuk membangun berbagai fasilitas pengolahan dan kilang baru guna menopang transformasi energi ini.

“Kita akan mandiri, kita akan kuat, kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujarnya dengan nada patriotik.

Berdirinya fasilitas perakitan kendaraan listrik di Magelang adalah bukti bahwa cetak biru tersebut mulai berjalan. Pabrik ini ditargetkan mampu memuntahkan kapasitas produksi hingga 10.000 unit bus listrik per tahun, dengan kewajiban memacu Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menyentuh level 80 persen. Sebuah tamparan keras bagi industri yang selama ini hanya mengandalkan impor.