Cara Puasa Intermiten dan Manfaatnya, Menurut Para Ahli Internasional

Puasa Intermiten/Unsplash

Puasa intermiten kini menjadi tren gaya hidup sehat di berbagai negara. Pola makan ini tidak hanya menahan lapar, tetapi mengatur waktu kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. Banyak penelitian internasional menunjukkan bahwa cara ini berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh jika dilakukan dengan benar.

Cara Melakukan Puasa Intermiten

Menurut sejumlah ahli gizi, prinsip utama puasa intermiten adalah mengatur waktu makan. Metode yang paling umum digunakan adalah pola 16/8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan hanya dalam jendela waktu 8 jam. Misalnya, seseorang bisa mulai makan pada pukul 12.00 siang dan berhenti pada pukul 20.00 malam.

Alternatif lainnya adalah metode 5:2, yaitu makan seperti biasa selama lima hari dalam seminggu dan membatasi kalori secara signifikan selama dua hari sisanya.

Selama masa puasa, seseorang masih boleh mengonsumsi air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam. Minuman ini tidak memicu peningkatan insulin sehingga tidak membatalkan puasa.

Ahli menyarankan pemula untuk memulai secara bertahap — misalnya dengan puasa 12 jam lebih dulu sebelum meningkat ke 14 atau 16 jam. Selain itu, penting untuk tetap menjaga asupan bergizi seimbang selama jendela makan dan tidak menjadikan puasa intermiten sebagai alasan untuk makan berlebihan.

Manfaat Menurut Para Ahli

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan puasa intermiten dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh.
Peneliti dari Johns Hopkins University, Profesor Mark P. Mattson, mengatakan bahwa puasa intermiten dapat meningkatkan kesehatan otak, memperbaiki biomarker penyakit, mengurangi stres oksidatif, serta menjaga fungsi memori.

Ahli dari Mayo Clinic menjelaskan bahwa puasa intermiten juga berpotensi memperbaiki kadar gula darah, menurunkan berat badan, kolesterol, serta tekanan darah. Sementara studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan bahwa pola ini dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk obesitas dan hipertensi.

Namun, penelitian terbaru juga memberikan catatan penting. Pola makan dengan waktu makan yang terlalu terbatas — misalnya hanya delapan jam per hari — ditemukan dapat meningkatkan risiko gangguan jantung pada beberapa kelompok tertentu. Karena itu, metode ini harus dilakukan dengan hati-hati dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Catatan dan Peringatan

Para pakar menegaskan bahwa puasa intermiten tidak cocok untuk semua orang. Ibu hamil, penderita diabetes, orang dengan tekanan darah rendah, atau mereka yang memiliki riwayat gangguan makan disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai.

Efek samping yang mungkin muncul pada awal penerapan meliputi rasa lemas, sulit fokus, mudah lapar, dan gangguan tidur. Selain itu, jika pola makan saat jendela makan tidak dijaga, manfaat puasa intermiten bisa hilang begitu saja.

Kesimpulan

Puasa intermiten pada dasarnya mengatur kapan seseorang makan, bukan hanya apa yang dimakan. Manfaatnya meliputi peningkatan metabolisme, penurunan berat badan, dan perbaikan kesehatan jantung. Namun, karena efeknya bisa berbeda pada tiap individu, metode ini sebaiknya dijalankan dengan pengawasan medis atau ahli gizi.

Seperti disampaikan Profesor Mark Mattson, “Puasa intermiten bukan sekadar pola diet, melainkan cara untuk mengembalikan ritme alami tubuh. Namun, harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan tidak berlebihan.”