Compulsive buying disorder atau kecanduan belanja adalah kondisi ketika seseorang terus menghabiskan uang—bahkan saat tidak memiliki dana dan tidak benar-benar membutuhkan barang tersebut. Meski terdengar sepele, gangguan ini dapat menimbulkan dampak finansial dan emosional yang serius. Program pemulihan dan terapi dapat membantu penderitanya mengelola kecanduan serta membangun kebiasaan belanja yang lebih sehat.
Shopping addiction, atau gangguan belanja kompulsif, merujuk pada dorongan tak terkendali untuk membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuan finansial. Berbeda dengan belanja sesekali untuk hiburan, perilaku belanja kompulsif sulit dikendalikan dan kerap berujung pada masalah keuangan berat.
Hingga kini, American Psychiatric Association (APA) belum secara resmi mengklasifikasikan kecanduan belanja sebagai gangguan kejiwaan tersendiri. Artinya, belum ada kriteria diagnosis resmi. Meski demikian, banyak pakar kesehatan mental meyakini bahwa perilaku ini layak mendapat pengakuan khusus karena memiliki pola adiktif yang mirip dengan kecanduan lainnya.
Bagaimana shopping addiction bekerja?
Seseorang dengan gangguan ini bisa terobsesi pada produk tertentu—seperti pakaian atau perhiasan—atau justru membeli berbagai hal tanpa batas, mulai dari makanan, produk kecantikan, hingga saham dan properti.
Aktivitas belanja dapat memicu rasa senang berlebihan atau “high” di otak. Ketika otak mulai mengaitkan belanja dengan sensasi menyenangkan tersebut, penderitanya akan terdorong untuk mengulanginya terus-menerus.
Penelitian mengenai kecanduan belanja masih terbatas. Sejumlah studi menunjukkan perempuan lebih rentan, sementara penelitian lain menyatakan risiko antara laki-laki dan perempuan relatif sama.
Sering tersembunyi di balik citra sukses
Banyak penderita shopping addiction mampu menyembunyikan masalahnya dengan baik. Kadang hanya orang-orang terdekat yang menyadari perilaku tersebut. Mereka bisa menyembunyikan barang belanjaan, tampak seolah memiliki banyak uang, atau menampilkan citra hidup mewah, padahal sebenarnya terjerat utang besar.
Jika seseorang tidak mampu menghentikan kebiasaan belanja atau memiliki utang yang terus menumpuk, kondisi tersebut patut dicurigai sebagai kecanduan.
Tanda-tanda kecanduan belanja
Seseorang dengan compulsive buying disorder dapat menunjukkan perilaku berikut:
- Terobsesi berbelanja setiap hari atau setiap minggu
- Menggunakan belanja sebagai cara mengatasi stres
- Menghabiskan limit kartu kredit atau membuka kartu baru tanpa melunasi utang lama
- Merasakan euforia berlebihan setelah membeli barang
- Membeli barang yang tidak dibutuhkan atau tidak pernah digunakan
- Berbohong atau bahkan mencuri demi bisa terus berbelanja
- Merasa menyesal setelah belanja, tetapi tetap mengulanginya
- Gagal mengendalikan utang dan keuangan
- Berulang kali gagal menghentikan kebiasaan belanja kompulsif
Mengapa sulit diatasi?
Belanja adalah bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Semua orang perlu membeli makanan, pakaian, dan kebutuhan lain. Karena itu, solusi “berhenti belanja sama sekali” tidak realistis dan tidak efektif untuk mengatasi kecanduan ini.
Pada kasus tertentu, penderita mungkin perlu “diputus” sementara dari akses uang tunai. Bantuan orang lain untuk mengelola atau mengawasi keuangan sering kali sangat diperlukan, terutama pada tahap awal pemulihan.
Pilihan penanganan dan pemulihan
Kecanduan belanja umumnya ditangani melalui terapi perilaku dan konseling individual. Terapi dapat membantu:
- Melatih pengendalian impuls
- Mengenali pemicu belanja kompulsif
- Mengembangkan pola pikir, perasaan, dan perilaku yang lebih sehat
- Mengidentifikasi masalah emosional atau gangguan mental lain yang mendasarinya
Membangun jaringan dukungan—keluarga, teman, atau sesama penyintas kecanduan belanja—juga berperan penting dalam proses pemulihan.
Selain itu, kelas manajemen keuangan dan program pemulihan berbasis 12 langkah tersedia sebagai sumber dukungan jangka panjang. Banyak penderita mengikuti program semacam ini selama bertahun-tahun setelah memulai pemulihan.
Bagi mereka yang kesulitan keluar dari jeratan utang, lembaga seperti Federal Trade Commission (FTC) menyediakan panduan untuk mengelola utang dan memperbaiki skor kredit.
Jika tidak ditangani
Tanpa penanganan, kecanduan belanja dapat menyeret penderitanya ke dalam utang yang semakin dalam. Tidak jarang, bantuan baru dicari ketika kondisi sudah mencapai titik terburuk.
Dalam proses pemulihan, dukungan keluarga atau orang terdekat sering kali krusial untuk membantu mengelola keuangan. Seperti kecanduan lain, risiko kambuh tetap ada. Namun dengan dukungan dan strategi coping yang tepat, penderita dapat kembali ke jalur pemulihan dan membangun pola belanja yang sehat serta kehidupan yang lebih stabil.










