Sejarah Panjang Influenza: Virus Tua yang Terus Mengelabui Manusia

Flu/Pexels

Dari sekian banyak patogen yang pernah menghantui peradaban manusia, influenza atau flu menjadi salah satu yang paling bandel dan mematikan. Dengan kemampuan bermutasi yang nyaris menyerupai pesulap, virus ini terus lolos dari kekebalan tubuh manusia, baik yang terbentuk lewat vaksin maupun infeksi alami.

Dilansir dari Nature, kemampuan influenza untuk terus berubah secara konsisten telah menjadikannya ancaman kesehatan global yang berulang, menimbulkan dampak medis dan ekonomi di hampir seluruh dunia.

Pandemi Flu Berulang dalam Sejarah

Influenza bukan penyakit musiman biasa. Virus ini bergerak mengikuti musim, berpindah dari belahan bumi utara ke selatan setiap tahun, menginfeksi manusia sekaligus hewan seperti unggas, sapi, dan satwa liar.

Namun, setiap beberapa dekade, mutasi acak dapat memicu pandemi global. Sejarah mencatat pandemi flu 1918–1919 sebagai yang paling mematikan, dengan korban jiwa mencapai 50 juta orang di seluruh dunia. Pandemi berikutnya pada 1957–1958 dan 1968–1969 masing-masing menewaskan 1 hingga 4 juta orang, sementara pandemi flu babi 2009–2010 menyebabkan 105.000 hingga 395.000 kematian.

Di luar pandemi, flu musiman tetap menjadi pembunuh senyap. Nature mencatat, setiap tahun influenza menyebabkan 290.000–650.000 kematian global, serta kerugian ekonomi besar. Di Amerika Serikat saja, flu mengakibatkan kerugian produktivitas hingga US$8 miliar pada 2015.

Virus dengan Banyak Wajah

Secara ilmiah, influenza adalah virus RNA untai tunggal dari keluarga Orthomyxovirus. Dari empat tipe influenza yang dikenal, hanya influenza tipe A yang mampu memicu pandemi.

Influenza A memiliki potensi luar biasa untuk berubah, dengan 198 kombinasi serotipe yang berasal dari variasi dua protein permukaan utama: hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Dua protein inilah yang memungkinkan virus masuk dan keluar dari sel inang.

Beberapa strain influenza A yang paling berbahaya bagi manusia adalah H1N1, penyebab pandemi 1918, serta H3N2, yang memicu pandemi 1968 dan dikenal sangat mematikan bagi kelompok lanjut usia.

Gudang Virus di Alam

Meski paling berdampak pada manusia, manusia justru bukan inang utama influenza. Virus ini memiliki reservoir alami yang luas, terutama pada burung air, yang menyimpan beragam subtipe influenza dan menjadi sumber mutasi baru.

Selain burung, influenza juga ditemukan pada sapi, rusa, anjing, kuda, hingga hewan air. Perpindahan virus lintas spesies inilah yang kerap menjadi awal munculnya varian baru yang berbahaya bagi manusia.

Rahasia Daya Tahan Influenza

Keunikan influenza terletak pada struktur genetiknya yang sederhana namun licin. Genom influenza A dan B hanya terdiri dari delapan segmen RNA, sementara tipe C dan D memiliki tujuh segmen.

Struktur tersegmentasi ini memungkinkan influenza menukar materi genetik dengan strain lain, mempercepat evolusi virus. Ditambah lagi, enzim replikasi virus ini dikenal sangat mudah membuat kesalahan, menghasilkan tingkat mutasi tinggi yang membuat sistem imun manusia terus tertinggal.

Akibatnya, antibodi yang efektif hari ini bisa menjadi usang dalam waktu singkat, memaksa manusia memperbarui vaksin setiap tahun.

Vaksin Masih Jadi Pertahanan Utama

Hingga kini, vaksinasi tahunan tetap menjadi satu-satunya perlindungan paling efektif terhadap influenza. Namun, para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami mengapa beberapa strain, seperti H1N1 tahun 1918, jauh lebih mematikan dibandingkan yang lain.

Ahli mikrobiologi Peter Palese dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, yang dikutip Nature, menyebut penelitian terhadap virus 1918 menunjukkan bahwa perubahan kecil pada segmen RNA dapat menurunkan tingkat keganasan virus, meski mutasi baru tampak lebih kuat secara biologis.

Misteri ini, menurut Nature, menjadi salah satu tantangan besar yang harus dipecahkan sebelum manusia benar-benar bisa mengendalikan virus influenza—patogen tua yang terus menulis ulang sejarah pandemi dunia.