Sejarah bukan hanya tentang angka dan nama pahlawan; sejarah adalah catatan tentang betapa cairnya definisi “kewajaran” manusia. Apa yang hari ini kita anggap sebagai perilaku kriminal atau tidak higienis, dulunya mungkin dianggap sebagai tren, standar kecantikan, atau bahkan pengobatan medis yang sah.
Jika Anda hidup di beberapa abad yang lalu, kegiatan sehari-hari Anda mungkin akan membuat orang masa kini bergidik ngeri. Berikut adalah deretan tradisi jadul yang bakal bikin Anda geleng-geleng kepala.
1. Fotografi Pasca-Kematian (Post-Mortem Photography)
Di era Victoria (abad ke-19), ketika kamera masih merupakan barang mewah dan angka kematian sangat tinggi, muncul tradisi yang bagi kita saat ini sangat mengerikan: memotret anggota keluarga yang sudah meninggal.
- Praktiknya: Jenazah akan didandani dengan pakaian terbaik mereka, lalu diposisikan seolah-olah masih hidup. Ada alat penyangga khusus untuk membuat mata jenazah tetap terbuka atau tubuhnya tetap tegak.
- Tujuannya: Bagi masyarakat saat itu, ini adalah satu-satunya cara untuk memiliki kenangan visual terakhir dengan orang tersayang. Mereka seringkali berfoto bersama jenazah tersebut seolah-olah sedang melakukan sesi foto keluarga biasa.
2. Pesta Mumi di Era Victoria
Masih dari era yang sama, orang Eropa sempat memiliki obsesi aneh terhadap Mesir Kuno. Alih-alih menghormati mumi sebagai artefak sejarah, mereka justru memperlakukannya sebagai hiburan pesta.
- Praktiknya: Orang-orang kaya akan mengadakan pesta “Unwrapping Mummy” (Membuka Bungkus Mumi). Mereka membeli mumi dari pasar gelap, lalu membukanya di depan para tamu undangan untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
- Fakta Miris: Karena saking banyaknya pasokan mumi saat itu, mumi yang tidak digunakan untuk pesta terkadang digiling menjadi bubuk untuk dijadikan obat atau pigmen warna cat yang disebut “Mummy Brown”.
3. “The Sin Eater” (Pemakan Dosa)
Di Inggris dan Wales pada abad ke-18 dan 19, ada sebuah profesi yang mungkin paling menyedihkan di dunia: Sin Eater.
- Praktiknya: Ketika seseorang meninggal, keluarga akan memanggil seorang Pemakan Dosa. Sebuah roti diletakkan di atas dada jenazah dengan keyakinan bahwa roti tersebut akan menyerap dosa-dosa si mati.
- Risikonya: Si Pemakan Dosa harus memakan roti tersebut. Dengan melakukan itu, dia secara spiritual “mengambil alih” semua dosa orang mati tersebut ke dalam dirinya sendiri agar si mati bisa langsung ke surga. Para Pemakan Dosa biasanya adalah orang-orang kasta terendah yang dikucilkan masyarakat karena dianggap “penuh dosa”.
4. Pengobatan dengan Kokain dan Heroin
Bayangkan pergi ke apotek karena anak Anda batuk, dan apoteker memberikan sirup berisi heroin. Inilah realitas medis di akhir abad ke-19.
- Praktiknya: Sebelum regulasi obat ketat diberlakukan, kokain digunakan sebagai obat sakit gigi, sementara heroin dipasarkan secara legal oleh perusahaan farmasi besar sebagai obat batuk anak-anak.
- Logikanya: Zat-zat ini memang sangat efektif menghentikan gejala secara instan, namun masyarakat saat itu belum menyadari dampak kecanduan jangka panjang yang menghancurkan.
5. Tren Kecantikan Beracun (Arsenik dan Timbal)
Standar kecantikan masa lalu seringkali mematikan. Demi kulit yang pucat sempurna (simbol kekayaan karena tidak perlu bekerja di bawah matahari), wanita zaman dulu rela meracuni diri sendiri.
- Praktiknya: Bedak wajah di masa lalu mengandung timbal tingkat tinggi yang menyebabkan kerusakan kulit, rambut rontok, hingga kematian. Bahkan ada tren “Arsenic Wafer”, yaitu biskuit kecil mengandung arsenik yang dimakan untuk membuat kulit tampak bersih dan putih—meskipun sebenarnya arsenik perlahan membunuh sel darah merah mereka.
6. Uji Coba Ordeal (Trial by Ordeal)
Di abad pertengahan, sistem hukum tidak menggunakan bukti forensik, melainkan intervensi Tuhan melalui rasa sakit.
- Praktiknya: Jika seseorang dituduh mencuri, mereka mungkin diminta mengambil batu di dasar kuali berisi air mendidih.
- Putusannya: Jika dalam tiga hari luka bakar di tangan mereka sembuh dengan bersih, mereka dinyatakan tidak bersalah karena dianggap “dilindungi Tuhan”. Jika luka membusuk, mereka dinyatakan bersalah dan dieksekusi. Logika yang sangat tidak adil bagi siapa pun yang memiliki sistem imun lemah.
Kesimpulan: Syukuri Masa Kini
Melihat deretan tradisi di atas, kita tersadar bahwa peradaban manusia terus belajar dari kesalahan. Apa yang kita anggap normal hari ini—seperti menghirup uap vape atau penggunaan media sosial yang berlebihan—mungkin saja akan menjadi daftar “tradisi gila” bagi manusia di abad ke-25 nantinya.










