Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendesak perguruan tinggi di Indonesia untuk mengambil peran lebih agresif dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bertarung di kancah global.
Desakan ini muncul di tengah fakta bahwa pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri masih didominasi oleh sektor berketerampilan rendah (low skilled), padahal populasi sarjana di tanah air terus meningkat.
“Daya saing SDM nasional harus konsisten ditingkatkan agar setiap anak bangsa mampu berkompetisi di tingkat global. Peran aktif perguruan tinggi sangat diharapkan dalam mewujudkan peningkatan daya saing nasional,” tegas Lestari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/1).
Ironi Sarjana dan Pekerja Migran
Wanita yang akrab disapa Rerie ini membedah data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Tercatat, sepanjang periode 2022–2024, Indonesia telah menempatkan sebanyak 795,3 ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Sayangnya, mayoritas dari mereka masih bekerja pada sektor berisiko dengan keterampilan rendah. Posisi yang paling banyak diisi antara lain asisten rumah tangga, caregiver, pekerja kasar, buruh perkebunan, hingga operator produksi.
Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri pada Semester I 2025 menunjukkan potensi besar yang belum tergarap maksimal. Dari total penduduk Indonesia yang mencapai 286,69 juta jiwa, proporsi lulusan perguruan tinggi (Diploma hingga Sarjana) telah mencapai 11 persen.
Menurut Rerie, angka 11 persen tersebut seharusnya menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mengisi pos-pos pekerjaan berketerampilan tinggi (high skilled jobs) di pasar internasional, bukan sekadar mengirim tenaga kasar.
Jago Teori, Gagap Praktik
Rerie, yang juga Anggota Komisi X DPR RI, menilai secara akademis lulusan kampus Indonesia sebenarnya tidak kalah cerdas dibanding lulusan luar negeri. Namun, ada satu kelemahan mendasar.
“Dalam mempraktikkan ilmu tersebut secara nyata di dunia kerja, kerap kali (lulusan kita) menghadapi kendala,” ujarnya.
Oleh karena itu, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini mendorong adanya kolaborasi konkret antara perguruan tinggi dengan lembaga pelatihan kerja. Ia meminta kurikulum tidak kaku, melainkan adaptif terhadap kebutuhan industri global.
“Persiapan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja harus direalisasikan secara sistematis sejak masa pendidikan,” pungkasnya.










