JAKARTA, Generasi.co — Eskalasi konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mulai merembet ke rantai pasok pangan dunia, khususnya ketersediaan pupuk urea global. Banyak negara kini dihantui ancaman krisis pangan akibat terganggunya suplai pupuk. Namun, di mata Pemerintah Indonesia, krisis ini justru menjadi momentum kebangkitan raksasa industri pupuk nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa situasi global saat ini membuka peluang ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono membeberkan bahwa permintaan ekspor pupuk urea RI saat ini melonjak tajam, dengan berbagai negara antre dan siap membeli berapapun harganya.
“Di tengah kesulitan terbuka peluang dan kesempatan. Kita ubah ancaman global menjadi momentum kebangkitan industri pupuk nasional!” tulis Sudaryono membakar optimisme, dikutip Selasa (17/3/2026).
Pabrik Tua ‘Turun Gunung’ Gempur Pasar Global
Untuk merespons tingginya permintaan (demand) dunia, Indonesia tidak tinggal diam. Fasilitas produksi urea dalam negeri yang mumpuni kini dipacu hingga batas maksimal.
Bahkan, Sudaryono mengungkapkan sebuah fakta menarik: pabrik-pabrik pupuk tua yang sebelumnya sudah bersiap untuk ditutup lebih awal, kini terpaksa ‘turun gunung’ dan dioperasikan kembali secara maksimal demi memenuhi kuota permintaan pasar internasional yang tak terbendung.
Kesempatan emas meraup devisa negara dari krisis pasokan dunia ini pantang untuk dilewatkan.
Kebutuhan Petani Lokal Adalah Harga Mati!
Kendati pasar ekspor begitu menggiurkan, Wamentan Sudaryono memberikan garis pembatas yang sangat tegas. Ia memastikan bahwa euforia ekspor tidak akan mengorbankan ketahanan pangan di dalam negeri.
Berikut adalah prinsip prioritas distribusi pupuk urea di tengah tingginya permintaan global:
- Pemenuhan 100 Persen Domestik: Pasokan pupuk untuk kebutuhan nasional wajib terpenuhi seratus persen sebelum keran ekspor dibuka secara masif.
- Petani RI Urutan Pertama: Ketahanan pangan dan kebutuhan pupuk bagi para petani Indonesia menduduki prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
- Ekspor Hanya untuk Sisa Produksi: Setelah stok domestik dipastikan aman dan melimpah, barulah pemerintah akan melepas sisa produksi (surplus) tersebut untuk menggempur pasar internasional.
Sikap tegas ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan nasional di tengah ketidakpastian kondisi dunia, sekaligus memanfaatkan celah ekonomi global secara cerdas.










