Visi 20 Tahun Silam: Hashim Ungkap Prabowo Cetuskan Makan Bergizi Gratis Jauh Sebelum Gerindra Berdiri!

Presiden Prabowo Subianto memberikan pengarahan pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) seluruh Indonesia yang digelar di Kompleks Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu, 18 April 2026. Foto: BPMI Setpres/Rusman

Jakarta, Generasi.co — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi pilar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ternyata bukan “barang baru” atau sekadar jualan kampanye kemarin sore. Hashim Djojohadikusumo, adik kandung sang Presiden, membongkar fakta bahwa ide tersebut telah lahir sejak 20 tahun yang lalu—tepatnya pada tahun 2006.

Dalam acara ABPEDNAS di Hotel Fairmont, Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam, Hashim menegaskan bahwa kepedulian Prabowo terhadap gizi anak bangsa muncul jauh sebelum ia memiliki imajinasi politik untuk mendirikan Partai Gerindra.

“Ini 2006, berarti 20 tahun lalu. Pak Prabowo waktu itu belum ada partai, belum ada Partai Gerindra. Belum ada imajinasi, belum ada khayalan untuk mendirikan partai,” ungkap Hashim di hadapan para peserta.

Stunting: Ancaman yang Sudah Diramal Sejak 2006

Menurut Hashim, pemicu utama lahirnya ide MBG adalah kekhawatiran Prabowo terhadap data Kementerian Kesehatan saat itu yang menunjukkan 30 persen anak Indonesia menderita stunting. Prabowo kala itu sudah melihat bahwa kegagalan gizi adalah bom waktu bagi masa depan bangsa.

Hashim mengenang percakapan mendalam dengan kakaknya dua dekade silam. Prabowo sempat memperingatkan dampak jangka panjang jika kondisi tersebut tidak segera ditanggulangi.

“Sewaktu itu Pak Prabowo bilang ke saya, ‘Kalau ini tidak bisa ditanggulangi, kita bisa membayangkan 20 tahun kemudian ya’. Dia bilang 30 persen angkatan kerja Indonesia adalah orang-orang yang menderita stunting,” jelasnya.

Ancaman IQ Rendah di Angkatan Kerja Masa Kini

Memasuki tahun 2026, kekhawatiran Prabowo seolah menjadi kenyataan yang pahit. Hashim mengungkapkan kecurigaannya bahwa 30 persen angkatan kerja yang saat ini mengisi pabrik, desa, dan kota-kota besar adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi pada tahun 2006.

Dampaknya bukan hanya fisik, melainkan pada kualitas intelektual bangsa. Hashim menyoroti perbedaan tajam tingkat kecerdasan antara mereka yang tumbuh sehat dengan korban stunting.

  • Kondisi Normal: Rata-rata IQ manusia berada di angka 100.
  • Kondisi Stunting: Hashim menyebut rata-rata IQ penderita stunting hanya berada di angka 72.

“Jangan-jangan 30 persen dari para pekerja kita menderita stunting. Dengan IQ rata-rata yang saya dengar 72. Coba bayangkan,” imbuh Hashim menekankan urgensi mengapa program MBG kini menjadi harga mati bagi pemerintahan Prabowo demi memutus rantai keterbelakangan gizi untuk generasi mendatang.