Sudaryono Ungkap Kisah Prabowo Hadiri Pelantikan Jokowi 2014: Turunkan Ego Demi Negara

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono/IG

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkap kisah di balik keputusan Presiden Prabowo Subianto menghadiri pelantikan presiden hasil Pilpres 2014 meski saat itu baru saja mengalami kekalahan dalam kontestasi politik.

Cerita tersebut disampaikan Sudaryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia mengaku sempat menentang keputusan Prabowo untuk hadir dalam pelantikan rival politiknya karena suasana kekecewaan masih menyelimuti tim internal.

“Tahun 2014, kalah Pilpres rasanya sungguh pahit. Kami, tim internal, menahan kesal. Tensi memanas. Tiba-tiba, komandan memutuskan hadir ke pelantikan kompetitornya,” tulis Sudaryono.

Menurut Sudaryono, dirinya bahkan menolak bergabung dalam rombongan yang akan menghadiri pelantikan tersebut. Namun pada pagi hari sebelum acara berlangsung, ia dipanggil ke Hambalang untuk sarapan bersama Prabowo.

Dalam pertemuan itu, Prabowo disebut menceritakan pengalaman hidupnya saat masih bertugas sebagai prajurit. Ia berkisah mengenai situasi pertempuran ketika nyawanya berada dalam ancaman dan kematian terasa sangat dekat.

“Bapak Prabowo menatapku. Beliau perlahan bercerita soal masa lalunya. Masa bertaruh nyawa. Ranjau meledak persis di depan mata. Pasukan terjepit. Kematian terasa begitu dekat menanti,” tulis Sudaryono.

Prabowo, lanjut dia, mengaku sempat dua kali mengucapkan kalimat syahadat ketika menghadapi situasi tersebut. Namun takdir berkata lain dan ia berhasil selamat.

“Tuhan rupanya berkehendak beda. Beliau selamat. Pulang membawa nyawa, ditambah pangkat, ditambah materi berkecukupan,” tulisnya.

Dari pengalaman itu, Prabowo disebut memberikan pelajaran bahwa kekalahan dalam politik tidak sebanding dengan risiko yang pernah dihadapi seorang prajurit di medan tempur.

“Bagi orang awam, kalah urusan politik mungkin kiamat kecil. Bagi prajurit tempur, kekalahan politik tidak sebanding ujung peluru. Perasaan kecewa, tersingkirkan, terbuang, itu urusan sepele,” ungkap Sudaryono mengutip pesan yang diterimanya saat itu.

Sudaryono mengatakan nasihat tersebut mengubah cara pandangnya terhadap politik dan menghapus rasa marah yang sebelumnya ia rasakan.

Ia menilai Prabowo memberikan teladan tentang pentingnya menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Bapak Prabowo menasihati pagi itu. Menghapus kemarahanku seketika. Beliau mencontohkan ketiadaan ego personal demi urusan bernegara,” tulisnya.

Di akhir unggahan, Sudaryono merangkum pelajaran yang ia peroleh dari peristiwa tersebut dalam satu kalimat singkat.

“Ternyata politik bisa dibuat sangat sederhana, turunkan ego.”

Ia juga menambahkan pesan dalam bahasa Inggris yang menegaskan pentingnya mengesampingkan perasaan pribadi demi kepentingan bangsa.

“There is no personal feeling for the sake of the country,” tulis Sudaryono.