Di pesisir Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo, angin laut kini membawa harapan yang berbeda. Jika dahulu kawasan ini identik dengan peluh ekstra para nelayan yang harus berjuang melawan keterbatasan fasilitas dasar, kini lanskap itu telah berubah dengan hadirnya Kampung Nelayan Merah Putih. Lebih dari sekadar deretan beton dan fasilitas fisik, kawasan ini adalah monumen hidup tentang bagaimana negara merajut asa masyarakat pesisir untuk mandiri dan sejahtera.
Memotong Rantai Beban Operasional
Bagi nelayan, musuh terbesar di laut bukan hanya badai, melainkan biaya operasional dan penyusutan kualitas tangkapan. Suhardi Darisse, seorang tokoh nelayan setempat yang telah puluhan tahun bersahabat dengan ombak, menjadi saksi hidup transformasi ini. Kebutuhan paling vital—es balok untuk menjaga kesegaran ikan—kini bukan lagi barang mewah yang sulit dijangkau.
Dahulu, nelayan harus menempuh jarak 8 hingga 10 kilometer dan menyewa transportasi hanya untuk membeli es seharga Rp13.000 per balok. Kini, es balok diantar langsung ke kawasan mereka dengan harga separuhnya, yakni Rp6.500 per balok. Mengingat satu unit usaha bisa membutuhkan hingga 50 balok es dalam semalam saat musim ikan tiba, efisiensi ini merupakan lompatan besar bagi perekonomian rumah tangga nelayan.
Dari Nelayan, Oleh Nelayan, Untuk Nelayan
Keberlanjutan sebuah program pembangunan terletak pada siapa yang mengelolanya. Di Kampung Nelayan Merah Putih, pengelolaan fasilitas tidak dilepas begitu saja ke pihak luar, melainkan diserahkan kepada Koperasi Kelurahan Merah Putih. Menurut Abdul Rahman Lamusu, selaku Ketua Koperasi, sistem ini memastikan roda ekonomi berputar langsung di tangan masyarakat setempat.
Fasilitas yang disediakan pun sangat komprehensif, mencakup siklus penuh kebutuhan nelayan: mulai dari bengkel, pabrik es, shelter pendingin, gudang beku, tempat pendaratan ikan, docking perahu, hingga balai pertemuan.
Simbol Kehadiran Negara
Peninjauan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ke kawasan ini pada 9 Mei 2026 menjadi penanda tegas bahwa pembangunan kelautan nasional tidak hanya berpusat pada industri skala besar, tetapi bermula dari kesejahteraan nelayan tradisional.
Di bawah semilir angin laut Leato Selatan, Kampung Nelayan Merah Putih membuktikan bahwa ketika infrastruktur didekatkan dengan masyarakat dan dikelola melalui gotong royong, kesejahteraan bukanlah sekadar janji, melainkan realitas yang dihidupi setiap hari.










