Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menyoroti transformasi besar dalam jalur distribusi pangan nasional yang kini mulai dirasakan langsung oleh para petani dan pedagang kecil. Melalui unggahan di media sosial resminya, Sudaryono mengapresiasi kebijakan penyediaan gerbong logistik gratis bagi hasil bumi pada trayek kereta api Rangkasbitung–Merak.
Kebijakan ini merupakan perwujudan dari gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan negara di tengah kesulitan rakyat, khususnya dalam memotong rantai distribusi yang selama ini membebani biaya produksi petani.
Baja Bertrayek: Memotong Ongkos, Menambah Keuntungan
Menurut Sudaryono, pemandangan tumpukan sayur yang melaju di atas rel kini menjadi simbol kemandirian ekonomi baru. Jika dulu biaya angkut logistik menjadi beban berat yang menggerus pendapatan petani, kini skema baru memungkinkan hasil panen ikut serta dalam gerbong penumpang secara cuma-cuma.
“Dulu ongkos angkut mahal membebani pundak mereka. Kini tebus satu tiket penumpang sudah cukup. Karung bawang, tomat, cabai ikut naik kereta gratis. Ongkos susut drastis, keuntungan masuk dompet mereka bertambah,” tulis Sudaryono.
Distribusi Cepat, Pangan Tetap Segar
Wamentan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi di sawah, tetapi juga soal kecepatan distribusi ke meja makan konsumen. Dengan memanfaatkan jalur kereta api, waktu tempuh dapat dipangkas secara signifikan.
Beberapa dampak positif dari kebijakan “Baja Bertrayek” ini meliputi:
- Efisiensi Logistik: Biaya transportasi hasil bumi bagi individu petani menjadi nol rupiah (terintegrasi dengan tiket penumpang).
- Kualitas Produk: Sayur dan komoditas pangan lainnya tiba di pasar dalam kondisi yang sangat segar karena terhindar dari kemacetan jalan raya.
- Stabilitas Harga: Pemotongan biaya distribusi di tingkat hulu berpotensi menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen.
Kehadiran Negara untuk Warga
Sebagai sosok yang memahami pahit getirnya proses bercocok tanam, Sudaryono menekankan bahwa kehadiran teknologi dan infrastruktur harus mampu menyentuh aspek kemanusiaan.
“Saya paham betul susahnya membesarkan tanaman. Ketika hasil panen tiba tepat waktu beserta usaha kecil terus berjalan, di situlah negara benar-benar hadir untuk warganya,” pungkas Sudaryono.
Inisiatif ini diharapkan dapat terus diperluas ke berbagai trayek kereta api lainnya di Indonesia, guna memastikan kesejahteraan petani meningkat dan akses masyarakat terhadap pangan segar tetap terjaga.










