Buka LCC untuk Pelajar di Kalimantan Barat, HNW: Persiapkan Gen Z Songsong Indonesia Emas 2045

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, membuka LCC Empat Pilar MPR RI 2026 sebagai upaya mempersiapkan Generasi Z menyongsong Indonesia Emas 2045./MPR RI

Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., didampingi Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR, Agun Gunandjar Sudarsa, Bc., Ip., M.Si., anggota Badan Pengkajian MPR, Alifudin, Gubernur Kalbar yang diwakili Staf Ahli Gubernur, Yosafat Triadhi Andjioe, S.T., M.M., M.T., dan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, Syarief Faisal Idahmawah Alkadri, melakukan pemukulan kendang sebagai penanda dibukanya Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 untuk pelajar se-Provinsi Kalimantan Barat. Prosesi tersebut berlangsung di Kota Pontianak, Sabtu (9/5/2026).

Ratusan siswa dan guru pendamping dari 9 SMA, baik negeri maupun swasta, ikut serta dalam final tingkat Provinsi LCC (Lomba Cerdas Cermat) Empat Pilar MPR Tahun 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Kesembilan sekolah itu adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Singkawang, SMAN 1 Seponti, SMA Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santo Petrus Pontianak, SMAN 1 Sambas, SMAN 1 Sanggau, MAS Darussalam Sengkubang, dan MAN 1 Sintang.

Dalam sambutannya, Hidayat Nur Wahid mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 akan dinikmati oleh generasi yang sekarang menjadi peserta sosialisasi Empat Pilar MPR RI melalui metode Lomba Cerdas Cermat. Generasi ini sering disebut sebagai Generasi Z, maka mereka sejak sekarang (tahun 2026) sudah harus mempersiapkan diri, salah satunya melalui keikutsertaan dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI.

Sebagaimana dulu tokoh-tokoh Indonesia yang berperan besar dalam melahirkan Indonesia Merdeka tahun 1945 sudah melakukan persiapan sejak tahun 1924-1925. Saat itu anak-anak Indonesia, para terpelajar Indonesia baik yang belajar di dalam maupun luar negeri, di Belanda maupun di Mesir, mulai menggaungkan kemerdekaan Indonesia. Mereka membuat satu perkumpulan pelajar Indonesia bernama Perhimpunan Indonesia, menerbitkan majalah bernama “Suluh Indonesia”, dan tuntutannya adalah Indonesia Merdeka.

HNW Soroti Peran Sultan Abdul Hamid Al-Qadri II

“Saat ini, 20 tahunan sebelum Indonesia Emas 2045 hadir, hukum sejarah mengatakan kalau ingin mengetahui bagaimana nasib bangsa 20 tahun yang akan datang lihatlah kejadian apa pada 20 tahun sebelumnya. Maka anak-anak pelajar/Gen Z di Pontianak/Kalimantan Barat, 20 tahun sebelum 2045, yaitu sekarang ini, penting mempersiapkan diri agar dapat berperan maksimal menghadirkan dan mengisi Indonesia Emas 2045. Ini bisa jadi pengulangan sejarah karena dari Sultan Syarief Abdul Hamid Al-Qadri II dari Pontianak yang dulu belajar serius, nanti pada 1945-an bersama para pahlawan bangsa ikut memperjuangkan Indonesia merdeka, bergabung dengan Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya dengan menyumbangkan meriam dan senjata. Bahkan kemudian Sultan Syarif Hamid Al-Qadri mendapatkan amanah Presiden Soekarno melalui Kepres Nomor 4 Tahun 1950 untuk membuat Lambang Negara Garuda Pancasila.

“Lambang Garuda Pancasila kita adalah kreasi dari seorang pimpinan nasional dari Kalimantan Barat yaitu Sultan Syarif Al-Qadri II. Beliau mendapat amanah dari Presiden Soekarno untuk membuat Lambang Negara Garuda Pancasila dan beliau kerjakan dan jadilah warisannya membingkai kita semuanya termasuk 5 sila dengan simbol-simbolnya. Tidak bisa dipungkiri, lambang negara yang menyatukan bangsa Indonesia dan diakui oleh negara dengan kepres, mampu menjadi lambang yang diterima dan berhasil menjaga eksistensi NKRI dan itu karya monumental yang layak diakui/diapresiasi oleh bangsa dan pemerintah Indonesia. Karena itu saya sangat mendukung usulan dari Kalimantan Barat, agar Sultan Abdul Hamid Al-Qadri II dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional,” ungkap Hidayat Nur Wahid, yang akrab disapa HNW.

Pengakuan Sultan Abdul Hamid Al-Qadri II sebagai Pahlawan Nasional, menurut HNW, menjadi bagian dari pilihan penting untuk menguatkan komitmen mencintai dan menjaga keutuhan Indonesia serta sebagai persiapan dan komitmen kita menyongsong Indonesia Emas 2045. Mensitir pendapat Bung Karno, HNW kemudian mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai perjuangan/jasa para pahlawannya. Dan saat ini bangsa yang besar itu sedang kita hadirkan kembali di sini melalui kehadiran peserta LCC yang diselenggarakan di Kalimantan Barat.

Empat Pilar MPR RI Jadi Benteng Generasi Z

“LCC bukan sekadar lomba, diharapkan kegiatan ini menjadi cara yang efektif untuk menginternalisasi Empat Pilar MPR RI, sehingga tantangan besar Generasi Z menghadapi era disrupsi, di mana informasi dari luar membanjir melalui media sosial tanpa bisa dicegah, dapat terkoreksi. Itu akan terjadi jika kita tidak hanya mampu menghafal, tapi juga mencintai dengan memahami dan menginternalisasi, serta melaksanakan Empat Pilar MPR RI itu,” kata Hidayat menambahkan.

Dengan begitu, seluruh peserta LCC diharapkan bisa menjadi pribadi yang Pancasilais, karenanya menjadi religius sehingga tidak gampang tertipu oleh propaganda kelompok komunis maupun liberalis. Berkemanusiaan dan tidak mempan dengan propaganda terorisme, ekstremisme. Menerima persatuan NKRI dan tidak akan mempan dengan propaganda separatisme.

Dan dengan pendekatan ini, bangsa Indonesia akan menjadi manusia yang berkualitas, mampu mengembangkan sikap dan jiwa bermusyawarah, menerima demokrasi untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia, tidak menjadi kelompok antisosial. Dengan demikian Gen Z tidak terjebak dalam framing yang mengatakan bahwa Gen Z adalah komunitas yang egois, asosial, maunya hanya memanen hasil, tidak mau berproses, juga anti sejarah.

“Kita buktikan bahwa framing tadi adalah jebakan jahat yang luar biasa. Karena terbukti seperti anak-anak semuanya, para Gen Z peserta sosialisasi melalui Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI ini sangat mencintai sejarah, bekerja keras menghadirkan proses, menghadirkan kemenangan supaya mengulangi lagi sejarah gilang-gemilang, sebagaimana sejarah perjuangan tokoh Pontianak; Sultan Abdul Hamid Al-Qadri II. Yaitu, menghadirkan perjuangan untuk menjadi juara. Bukan semata juara dalam lomba, tapi juara juga dalam mengamalkan Empat Pilar MPR RI,” ungkap politisi PKS ini.

Dengan demikian Indonesia Emas 2045 akan bisa diwujudkan dengan cara yang terbaik, karena kita sudah mempersiapkan generasi 20 tahun sebelum 2045 seperti dahulu disiapkannya generasi 20 tahun sebelum 1945 yang menjadikan Indonesia Merdeka.

“Dengan demikian, Insya Allah Indonesia 2045 benar-benar bisa diisi oleh Generasi Emas yang mencintai Bangsa dan Negara serta bahkan bisa mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD NRI 1945,” pungkasnya.