Sudaryono: Impor Pangan Dikurangi, Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas

Wakil Menteri Pertanian (Wamantan), Sudaryono/IG

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono membagikan nomor WhatsApp pribadinya kepada ribuan petani di Lamongan sebagai upaya mempercepat penyelesaian berbagai persoalan di lapangan, terutama yang berkaitan dengan musim tanam dan produksi pangan.

Menurut Sudaryono, persoalan yang dihadapi petani tidak bisa menunggu terlalu lama. Karena itu, ia meminta para petani menyampaikan keluhan secara langsung apabila menemukan kendala dalam kegiatan pertanian.

“Urusan tanam padi tidak bisa menunggu besok. Ada keluhan, langsung kirim pesan,” kata Sudaryono.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pemerintah tengah memprioritaskan kepentingan petani dalam kebijakan pangan nasional. Menurutnya, Indonesia selama bertahun-tahun bergantung pada impor berbagai komoditas, mulai dari beras, jagung hingga gula.

“Sekarang pintu impor perlahan ditutup. Pasti ada pihak marah. Maaf saja, kesejahteraan petani lokal menempati urutan pertama,” ujarnya.

Sudaryono mengatakan kondisi ketersediaan pupuk saat ini lebih baik dibanding sebelumnya. Ia menyebut harga pupuk telah ditekan dan penggunaan pupuk nasional meningkat 38 persen, yang menurutnya mendorong petani kembali bersemangat menggarap lahan.

Selain itu, pemerintah juga mengawal harga jual hasil panen agar petani memperoleh kepastian pendapatan. Harga gabah, kata dia, dijaga pada level minimal Rp6.500 per kilogram.

Ia menambahkan, berbagai capaian di sektor pertanian tidak lepas dari peran penyuluh pertanian yang selama ini bekerja mendampingi petani di lapangan.

“Di balik semua capaian ini ada keringat penyuluh pertanian. Mereka bekerja keras,” katanya.

Di tengah situasi global yang disebutnya masih penuh ketidakpastian, Sudaryono mengajak masyarakat bersyukur karena sektor pangan nasional tetap terjaga. Ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menutup pernyataannya, Sudaryono kembali mengajak petani untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi agar dapat diselesaikan bersama.

“Kirim keluhan kalian. Mari bereskan bersama,” ujarnya.