Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai penguatan nilai tukar rupiah tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan moneter jangka pendek. Ia menekankan perlunya pembenahan struktur ekonomi nasional secara menyeluruh untuk memperkuat daya tahan rupiah di tengah dinamika global.
Menurut politikus Partai Partai Gerindra itu, pemerintah perlu memperkuat sektor manufaktur, meningkatkan diversifikasi perdagangan internasional, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat melalui upaya dedolarisasi.
Kamrussamad menyebut perkembangan geopolitik dunia dalam beberapa dekade terakhir telah melahirkan berbagai blok dan kerja sama ekonomi baru yang membuka peluang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
“Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Kamrussamad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Ia menyoroti tren depresiasi rupiah terhadap dolar AS dalam dua dekade terakhir. Pada 2004, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp8.000 per dolar AS, melemah menjadi sekitar Rp14.000 pada 2014, dan kini mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Menurutnya, pelemahan tersebut tidak semata dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga menunjukkan perlunya perbaikan struktur ekonomi nasional yang selama ini masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga.
Kamrussamad menilai penguatan sektor industri manufaktur menjadi kunci penting dalam memperkuat fondasi ekonomi. Dengan berkembangnya industri, penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
“Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” katanya.
Ia juga menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam, serta penguatan sektor energi, ketahanan pangan, pertanian, dan perikanan merupakan langkah tepat untuk meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia.
Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya bergantung pada konsumsi domestik, tetapi juga mampu memperbesar kontribusi sektor produksi dan ekspor dalam pertumbuhan ekonomi.
Kamrussamad menambahkan, Indonesia perlu secara bertahap memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional agar tidak bergantung pada satu mata uang global.
Ia menegaskan, kombinasi antara penguatan struktur ekonomi domestik, hilirisasi industri, peningkatan daya saing manufaktur, dan diversifikasi transaksi perdagangan menjadi kunci memperkuat rupiah serta ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.










