Generasi.co, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memperkuat upaya mendorong UMKM Indonesia menembus pasar ekspor. Strategi tersebut dilakukan melalui pembiayaan, penguatan literasi keuangan, serta pembukaan akses bisnis dan pasar internasional.
Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. mengatakan terdapat tiga tantangan utama yang harus dijawab agar semakin banyak UMKM mampu masuk ke pasar ekspor. Ketiganya yakni kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.
“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo dalam Indonesia Economic Forum 2026 bertema “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”.
Menurut Dippo, pembiayaan menjadi fondasi awal bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Modal memungkinkan pelaku usaha memperbesar skala bisnis dan memenuhi standar pasar yang lebih luas.
Hingga akhir triwulan II 2026, kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan. Sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.
Namun, Dippo menilai pembiayaan saja belum cukup untuk membawa UMKM masuk ke pasar global. Pelaku usaha juga perlu memiliki literasi keuangan dan tata kelola yang baik karena pasar ekspor memiliki tuntutan lebih kompleks.
“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,” jelasnya.
BRI kemudian mengembangkan ekosistem pemberdayaan UMKM yang berjalan berdampingan dengan pembiayaan. Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, sedangkan Klasterku Hidupku menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.
Di sisi digital, LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Sementara pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.
“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,” ungkap Dippo.
Setelah kapasitas usaha diperkuat, BRI membuka akses UMKM kepada pasar melalui ekosistem nasabah berbagai segmen dengan pendekatan One BRI Solution. Pendekatan ini memungkinkan UMKM terhubung dengan nasabah korporasi maupun komersial dan masuk ke rantai nilai yang lebih besar.
Upaya tersebut juga dilakukan melalui BRI UMKM EXPO(RT). Pada penyelenggaraan 2025, ajang tersebut menghadirkan lebih dari 1.000 UMKM dan merealisasikan commitment deal melalui business matching senilai USD90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.
Kegiatan tersebut juga mempertemukan UMKM dengan 506 pembeli terdaftar dari 34 negara.
Dippo mencontohkan pengembangan UMKM sektor perikanan dan industri kayu di Jawa Timur. Menurutnya, BRI memanfaatkan ekosistem nasabah korporasi dan komersial yang telah memiliki hubungan bisnis dengan buyer di berbagai negara untuk membuka akses pasar internasional.
“Ketika mereka berhasil menjual produknya, mereka tidak sendiri. BRI tidak memberikan akses itu sendiri. Kita menggunakan nasabah-nasabah korporasi dan komersial kita yang kebetulan juga memiliki buyer di negara-negara tersebut. Jadi kolaborasi ini contohnya,” kata Dippo.










