Studi Ungkap Alasan Aktivitas Seks Perempuan Menurun di Usia Paruh Baya

Ilustrasi Pasangan Paruh Baya/Pexels

Generasi.co, JAKARTA – Kelelahan akibat banyaknya tanggung jawab dan ketidakpuasan dalam hubungan menjadi faktor yang berkaitan dengan menurunnya aktivitas seksual perempuan pada usia paruh baya. Penurunan frekuensi hubungan seksual juga tidak selalu berarti kepuasan seksual mereka ikut berkurang.

Dilansir melalui BuzzFeed, temuan studi yang diterbitkan pada 2023 menunjukkan bahwa usia dan tahap menopause tidak memiliki hubungan independen dengan berbagai aspek pengalaman seksual perempuan paruh baya yang memiliki pasangan laki-laki.

Penelitian tersebut menganalisis data 2.133 perempuan yang mengikuti survei nasional ketiga Inggris tentang sikap dan gaya hidup seksual (British National Survey of Sexual Attitudes and Lifestyles), yang dilakukan pada 2010 hingga 2012.

Peneliti juga mewawancarai 23 perempuan berusia 45-59 tahun yang mengaku tidak puas dengan kehidupan seksual mereka. Wawancara itu dilakukan untuk memahami pengalaman perempuan yang dinilai belum cukup terwakili dalam interpretasi data survei.

Hasil penelitian menunjukkan, berkurangnya frekuensi hubungan seksual lebih umum terjadi dibandingkan penurunan kepuasan seksual. Artinya, perempuan dapat tetap merasa puas dengan kehidupan seksual mereka meskipun tidak lagi berhubungan intim sesering sebelumnya.

Ketidakpuasan terhadap hubungan justru berkaitan dengan penurunan kepuasan, aktivitas, dan fungsi seksual. Kesulitan berkomunikasi dengan pasangan juga berhubungan dengan ketidakpuasan seksual serta penurunan fungsi seksual.

Wawancara mendalam dengan para perempuan yang tidak puas mengungkap faktor lain yang tidak tertangkap dalam survei, yakni kelelahan akibat tuntutan kehidupan pada usia paruh baya.

Peneliti menemukan bahwa kelelahan menjadi tema dominan dalam pengalaman para perempuan tersebut. Aktivitas seksual dan kepuasan mereka berpotensi lebih terpengaruh ketika kelelahan disertai hubungan yang dirasakan tidak memuaskan.

Tuntutan kehidupan sehari-hari dapat menambah beban perempuan pada tahap usia ini. Selain mengurus anak dan pekerjaan, sebagian perempuan juga menghadapi tanggung jawab merawat anggota keluarga yang menua.

Sebelumnya, spesialis kesehatan perempuan di Marion Gluck Clinic, Dr. Ghazala Aziz-Scott, menjelaskan bahwa perempuan kerap menghadapi berbagai tanggung jawab secara bersamaan ketika memasuki masa perimenopause. Beban tersebut dapat meningkatkan stres dan membuat perhatian terhadap kesehatan diri sendiri, termasuk pola makan dan olahraga, tersisih.

Meski begitu, perubahan fisiologis tetap dapat memengaruhi kehidupan seksual perempuan. Penelitian lain menemukan bahwa perempuan paruh baya yang mengalami lebih sedikit gejala hot flashes cenderung lebih sering berhubungan seksual. Kadar estradiol yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan lebih sedikit kesulitan seksual.

Penelitian yang sama menunjukkan perempuan paruh baya yang mengalami kelelahan cenderung lebih mungkin memiliki pasangan, tetapi juga menghadapi lebih banyak kesulitan seksual.

Para peneliti studi 2023 menyimpulkan, pengalaman seksual perempuan pada usia paruh baya perlu dipahami dengan mempertimbangkan tahap kehidupan dan tuntutan sosial pada masa kini.

Karena itu, upaya meningkatkan kesejahteraan seksual perempuan tidak cukup hanya berfokus pada perubahan hormonal atau proses penuaan. Kondisi hubungan, komunikasi dengan pasangan, kelelahan, serta beban tanggung jawab sehari-hari juga perlu diperhitungkan.