Menlu RI Ajak ASEAN Bersatu dan Netral Hadapi Krisis Global

Menlu RI Sugiono (Sumber: Instagram @sugiono_56)
Menlu RI Sugiono (Sumber: Instagram @sugiono_56)

Menlu Sugiono serukan Asean bersatu, netral, dan strategis dalam menghadapi krisis global, fragmentasi ekonomi, dan tantangan kawasan.

Generasi.co, Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya memperkuat integrasi kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan global yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Peringatan HUT ke-58 ASEAN (ASEAN Day) di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Jumat (8/8/2025).

Sugiono menyebut ASEAN merupakan pusat dari integrasi kawasan, jaringan rantai pasok regional, sekaligus wadah dialog yang strategis. Ia menyebut peran ASEAN semakin krusial di tengah meningkatnya rivalitas di kawasan Pasifik.

Dengan populasi lebih dari 675 juta jiwa dan PDB gabungan hampir US$4 triliun, ASEAN saat ini menempati posisi sebagai ekonomi terbesar kelima dunia. Namun, menurut Sugiono, kekuatan ekonomi saja tidak cukup tanpa adanya kesatuan dan arah strategis yang jelas.

“Ukuran saja tidak berarti banyak jika ASEAN tidak bersatu dan berpikir strategis. Untuk menghadapi ketidakpastian itu, ASEAN harus memperkuat tekad agar tetap netral dan kredibel, bukan tersisih atau terpecah-belah,” ujar Menlu Sugiono, dikutip pada Senin (11/8).

Ia mengingatkan kawasan saat ini dihadapkan pada ancaman serius seperti fragmentasi ekonomi global, memburuknya situasi geopolitik, serta pelemahan prinsip-prinsip hukum internasional.

Sugiono juga menyoroti pentingnya implementasi nyata dari Visi ASEAN 2045, yang telah disepakati dalam KTT ASEAN di Malaysia, Mei 2025. Menurutnya, visi itu harus menjadi panduan konkret, bukan hanya sekadar dokumen aspiratif.

Ia menyerukan kepada seluruh negara anggota dan para pemangku kepentingan ASEAN untuk menunjukkan komitmen nyata dan political will yang kuat dalam mewujudkan agenda bersama.

“Jika ASEAN ingin tetap relevan, kita harus berinvestasi pada kapasitas kelembagaan untuk merespons krisis, memperkuat kerja sama ekonomi regional, mendorong transformasi digital, serta menangani ancaman lintas negara seperti perdagangan manusia, perubahan iklim, dan aksi kolektif,” jelasnya.

Senada dengan Sugiono, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan kekuatan ASEAN tidak semata pada struktur kelembagaannya, tetapi pada nilai dan komitmen bersama yang telah dibangun selama hampir enam dekade.

“Kita tidak boleh menganggap remeh nilai-nilai yang telah mempersatukan kita selama hampir enam dekade. Kekuatan terbesar ASEAN bukan terletak pada kelembagaannya, melainkan pada komitmen yang tak tergoyahkan terhadap perdamaian, kerja sama, dan persatuan dalam keberagaman,” kata Kao.

Ia menambahkan di tengah dinamika dan tekanan global, ASEAN harus terus menjadi kekuatan yang menjembatani perbedaan, memelihara stabilitas, dan menyediakan ruang bagi dialog yang terbuka.

“ASEAN harus tetap menjadi kekuatan yang stabil dan menenangkan, menyediakan ruang untuk dialog yang jujur, kerja sama praktis, dan berprinsip netral,” pungkasnya.

(BAS/Red)