JAKARTA, Generasi.co — Di tengah badai ketidakpastian global yang menekan sektor perbankan sepanjang 2025, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengambil langkah defensif sekaligus strategis. Emiten pelat merah ini resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai fantastis, mencapai maksimal Rp 905,48 miliar.
Langkah ini diambil manajemen BNI sebagai respons atas fluktuasi pasar yang dipicu oleh risiko geopolitik dan ancaman perang tarif yang berdampak signifikan pada indeks saham domestik.
Mengapa BNI Melakukan Buyback Sekarang?
Tahun 2025 bukanlah tahun yang mudah bagi industri perbankan nasional. Tekanan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit (loan demand) menjadi tantangan nyata di dalam negeri. Kondisi ini diperparah dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan kebijakan ekonomi global yang memicu inflasi melalui nilai tukar.
Hingga tutup tahun 31 Desember 2025, saham BBNI tercatat hanya tumbuh 0,5% (yoy). Meski angka ini masih lebih baik dibanding bank lokal lainnya, manajemen menilai harga saat ini masih “tertinggal” jauh dibandingkan bank-bank pesaing di tingkat regional.
“Buyback dimaksudkan untuk mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan yang sebenarnya,” tulis Manajemen BNI dalam keterbukaan informasi, Rabu (4/3/2026).
Detail Rencana Aksi Korporasi BNI
Untuk memudahkan Anda memahami rencana ini, berikut adalah rincian data pentingnya:
| Keterangan | Detail Rencana |
| Nilai Maksimal Buyback | Rp 905,48 Miliar |
| Sumber Dana | Arus Kas Bebas (Free Cash Flow) |
| Batas Modal | Maksimal 10% dari modal ditempatkan |
| Biaya Eksekusi | Est. 0,32% (termasuk komisi broker & penyimpanan) |
| Tujuan Akhir Saham | Dijual kembali atau Program Saham Pegawai/Pengurus |
Fundamental Solid di Tengah Krisis
Meskipun harga sahamnya tertekan, BNI menegaskan bahwa “jeroan” perusahaan masih sangat sehat. Transformasi digital yang masif serta penguatan jaringan telah membantu perseroan meningkatkan dana murah secara konsisten. Manajemen optimis kinerja laba rugi tidak akan terganggu secara material oleh aksi buyback ini.
Apa Selanjutnya?
BNI akan membawa rencana besar ini ke dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 9 Maret 2026. Jika para pemegang saham memberi lampu hijau, aksi borong saham ini akan dilakukan secara bertahap selama setahun penuh, mulai Maret 2026 hingga Maret 2027.
Langkah buyback ini menjadi oase bagi investor yang mengharapkan stabilitas, sekaligus bukti bahwa BNI siap “pasang badan” menjaga kepercayaan pasar di tengah dinamika geopolitik yang tak menentu.










