Generasi.co, Cirebon – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan transformasi pesantren bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi keharusan agar mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi.
Pernyataan itu disampaikan Muzani saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Sabtu (24/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti 308 pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera.
Menurut Muzani, perubahan yang berlangsung di berbagai bidang menuntut pesantren untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.
“Karena itu, pondok pesantren juga harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan,” kata Muzani dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).
Ia mengapresiasi penyelenggaraan workshop yang digagas KH Imam Jazuli sebagai bagian dari program pembekalan bagi 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia. Menurutnya, forum tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia yang lahir dari lingkungan pesantren.
“Kami menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia ini. Mudah-mudahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pesantren-pesantren akan menjadi rujukan bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia yang membanggakan,” ujarnya.
Muzani menilai Pesantren Bina Insan Mulia telah menunjukkan contoh bagaimana transformasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan jati diri pesantren. Karena itu, ia mendorong para pengasuh pesantren mempelajari model pengelolaan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Pesantren BIMA ini adalah contoh bagaimana perubahan-perubahan itu dilakukan. Karena itu cara berpikir bagaimana perubahan itu dilakukan akan dibedah dalam workshop hari ini,” katanya.
Ketua MPR juga mengingatkan bahwa lulusan pesantren harus mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, peran kiai tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi rujukan dalam persoalan sosial, ekonomi, pertanian, peternakan hingga kewirausahaan.
“Setelah lulus pesantren, para santri harus menjadi solusi atas problem kehidupan di masyarakat, bukan sebatas ngajar ngaji saja,” ucapnya.
Muzani juga mengajak pesantren memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar, berinovasi, dan mengembangkan usaha.
“Dari handphone seseorang bisa mendapatkan solusi, promosi, inspirasi, dan transaksi. Handphone harus dijadikan sumber rezeki dan inspirasi,” katanya.
Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 merupakan bagian dari program besar yang digagas KH Imam Jazuli untuk membekali 5.000 pengasuh pesantren di berbagai daerah. Forum tersebut bertujuan memperkuat transformasi pendidikan pesantren agar lebih adaptif, berkualitas, dan berdaya saing.










