Menkop Ferry Minta Koperasi Pesantren Jadi ‘Kakak Asuh’ Koperasi Desa Merah Putih

Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono/IG

Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono, mendorong koperasi pondok pesantren (Kopontren) untuk mengambil peran strategis dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Ia meminta Kopontren bertindak sebagai “kakak asuh” bagi Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.

Instruksi tersebut disampaikan Ferry saat menghadiri Menara Syariah-ISTAC International Halal Symposium 2026 di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (21/01).

“Saya mendorong koperasi pesantren untuk mengambil peran strategis sebagai ‘kakak asuh’ bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” ujar Ferry melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.

Sinergi Ekonomi Syariah di Akar Rumput

Ferry menilai kolaborasi antara koperasi pesantren dan koperasi desa merupakan momentum krusial untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah.

Menurutnya, sinergi ini memiliki tiga tujuan utama: mempercepat pengembangan usaha produktif di desa, memperkuat ekonomi syariah, serta memastikan layanan kebutuhan dasar masyarakat menjadi lebih mudah, terjangkau, dan berkelanjutan.

Halal Bukan Sekadar Kepatuhan

Dalam simposium bertema “Beyond the Halal Industry: Integration of ESG Principles, Challenges and Opportunities” tersebut, Ferry juga menekankan perubahan paradigma industri halal.

Ia menegaskan bahwa label halal saat ini tidak boleh berhenti pada aspek administratif atau kepatuhan (compliance) semata, melainkan harus melangkah ke arah prinsip keberlanjutan (sustainability) yang diakui dunia.

“Forum ini menjadi ruang penting untuk menegaskan bahwa halal tidak hanya soal kepatuhan, tetapi juga kepemimpinan global yang berkelanjutan,” tegasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Chairman Menara Syariah Harianto Solihin, Anggota Badan Pelaksana BPKH Indra Gunawan, Komisaris Independen Bank Mandiri Taspen, serta Head Of Regulatory Affairs Paragoncorp Joanny Magdalena.

Hadir pula perwakilan akademisi internasional dari International Institute Of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Khaliq Ahmad bin Mohd Israil, beserta sejumlah cendekiawan muslim lainnya.