Menlu RI Sebut Tarif Impor AS Jadi Pengingat untuk Perkuat Ekonomi Domestik

Menteri Luar Negeri Sugiono (Sumber: Instagram @sugiono_56)
Menteri Luar Negeri Sugiono (Sumber: Instagram @sugiono_56)

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono sebut tarif 32% dari AS jadi wake-up call RI agar perkuat ketahanan ekonomi nasional.

Generasi.co, Jakarta – Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menanggapi langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menetapkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk asal Indonesia. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai peringatan penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pihak luar.

“Ini merupakan sesuatu yang harus kita sadari bahwa it’s a wake up call juga buat kita. Makanya saya kira apa yang dicanangkan oleh Pak (Presiden RI) Prabowo sudah on the right track. Kita ingin bisa swasembada, memenuhi kebutuhan pangan kita, energi kita, dan ini merupakan sesuatu yang basic yang harus dipenuhi,” ujar Sugiono kepada wartawan, Rabu (9/7/2025).

Menurut Sugiono, kebijakan pemerintah yang fokus pada penguatan pangan, energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program makan bergizi gratis merupakan langkah yang tepat. Ia meyakini strategi ini dapat memperkuat pondasi ekonomi nasional, terlebih dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu.

“(Hal-hal ini menyebabkan) kita bisa benar-benar membangun suatu kekuatan ekonomi yang tidak bergantung kepada siapa pun dan tetap bisa menjalankan hubungan luar negeri yang baik dengan siapa pun,” lanjutnya.

Presiden Trump sebelumnya telah menetapkan bahwa tarif tambahan tersebut akan mulai diberlakukan pada 1 Agustus, di luar tarif umum AS yang saat ini berada di angka 10 persen. Indonesia termasuk dalam 14 negara yang menerima pemberitahuan resmi mengenai kebijakan ini.

Negara lain yang turut terdampak antara lain Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Bangladesh, Serbia, Bosnia, Kazakhstan, Afrika Selatan, dan Tunisia. Bahkan, Jepang dan Korea Selatan — dua sekutu utama AS — sudah terlebih dahulu menghadapi kebijakan serupa.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan pemerintah bersama sejumlah BUMN dan perusahaan swasta, telah menjalin kesepakatan dagang dengan pihak AS dalam upaya membatalkan tarif tersebut. Ia tidak merinci nilai transaksi, namun menyebut total komitmen pembelian dari pelaku usaha Indonesia terhadap produk AS mencapai US$34 miliar atau sekitar Rp553,11 triliun (mengacu pada kurs Rp16.268 per dolar AS).

Sementara itu, Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa peluang negosiasi dengan pemerintah AS masih terbuka terkait kebijakan tarif ini.

(BAS/Red)