Pelemahan IHSG, Prabowo: Pasar Modal Bukan Segalanya, Indonesia Punya Kekuatan Sendiri

Foto: Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan layanan bank emas pertama di Indonesia di The Gade Tower, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025). (YouTube Sekretariat Presiden)
Foto: Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan layanan bank emas pertama di Indonesia di The Gade Tower, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025). (YouTube Sekretariat Presiden)

Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi pelemahan IHSG akibat perang dagang AS. Ia menegaskan bahwa Indonesia tak perlu rendah diri karena memiliki kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar dari sekadar pasar modal.

Generasi.co, Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, angkat bicara menanggapi kondisi pasar modal nasional yang belakangan ini mengalami tekanan signifikan, termasuk pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Prabowo menilai bahwa gejolak di bursa saham bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena kekuatan ekonomi Indonesia jauh lebih besar dari sekadar pergerakan pasar saham.

Dalam wawancara khusus bersama tujuh jurnalis senior pada Selasa, 8 April 2025, Prabowo menyoroti bagaimana persepsi publik terhadap pasar modal kerap kali membuat bangsa merasa seolah tidak memiliki kekuatan.

“Saya tuh nggak terlalu takut sama pasar modal karena Indonesia punya kekuatan yang kita sadar ya. Kita jangan punya rasa rendah diri,” tegasnya.

Menurut Presiden, selama ini terdapat narasi yang membuat bangsa Indonesia merasa lemah di hadapan gejolak ekonomi global, padahal Indonesia memiliki sumber daya alam, kekuatan demografis, dan fundamental ekonomi yang kuat.

Pasar Modal dan Siklus Alami

Prabowo menjelaskan bahwa pasar saham adalah mekanisme ekonomi yang bergerak naik turun secara alami, dan tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal atas kondisi ekonomi nasional.

“Pasar saham itu dipengaruhi oleh mekanisme pasar, kadang-kadang naik, kadang-kadang turun. Ada siklus dan itu berjalan,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa para pelaku pasar saham umumnya mencari keuntungan secara cepat, sehingga pergerakan saham lebih mencerminkan spekulasi jangka pendek daripada stabilitas ekonomi jangka panjang.

“Orang yang masuk pasar saham dia itu cari untung secepat-cepatnya. Tapi lucunya, kalau harga saham turun, kita pemerintah selalu ditekan.”

“Tapi waktu saham naik, enggak ada yang bilang ‘terima kasih’,” sindir Prabowo dengan nada santai.

Membedakan Pasar Saham dan Investasi Langsung

Dalam pernyataannya, Prabowo juga membedakan secara tegas antara investasi portofolio di pasar saham dan investasi langsung (direct investment).

Menurutnya, investasi langsung memberikan manfaat jangka panjang dan menciptakan nilai tambah nyata untuk negara.

“Kalau direct investment, itu beda. Dia punya rencana. Misalnya, bikin pabrik, pakai bahan baku nikel, batu bara, atau bauksit.”

“Dia pikirkan distribusi, marketing, dan target untung 5, 10, bahkan 30 tahun. Itu beda dari spekulasi saham,” jelas Prabowo.

Investasi langsung dianggap lebih menguntungkan secara nasional karena mampu menciptakan lapangan kerja, membangun ekosistem industri, dan memperkuat struktur ekonomi domestik.

Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat

Presiden Prabowo juga menyatakan optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Ia menilai bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih tergolong sehat dan solid, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

“Fundamental kita kuat. Rasio utang rendah, inflasi terkendali, defisit anggaran juga dalam batas aman. Jadi investor tidak akan ragu masuk ke Indonesia kalau kita tetap jaga stabilitas,” tegasnya.

Menurutnya, kekuatan ekonomi nasional bukan hanya dinilai dari fluktuasi jangka pendek di pasar keuangan, tetapi dari struktur ekonomi yang mampu menciptakan ketahanan dan kemandirian jangka panjang.

Perang Dagang Global dan Respons Bijak

Pelemahan IHSG terbaru dipicu oleh ketegangan perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melalui kebijakan kenaikan tarif impor.

Kondisi ini menyebabkan guncangan di berbagai bursa dunia, termasuk di Indonesia.

Namun Prabowo menilai bahwa Indonesia tidak boleh larut dalam ketakutan yang berlebihan terhadap manuver ekonomi global.

Sebaliknya, Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ekonomi domestik dan memperluas kerja sama strategis dengan negara-negara mitra yang saling menguntungkan.

“Kita jangan panik. Bangsa kita besar, punya potensi luar biasa. Justru sekarang saatnya kita menunjukkan bahwa kita bisa berdiri di atas kaki sendiri,” pungkas Prabowo.

(BAS/Red)