JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi industri gula nasional yang dinilai sedang mengalami “paradoks besar”. Dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, ia menyoroti kontradiksi antara kebijakan impor yang masif dengan kondisi riil petani tebu di lapangan.
Menurut Sudaryono, saat ini terjadi fenomena di mana gula hasil panen petani lokal justru menumpuk di gudang-gudang karena tidak laku di pasaran. Sementara itu, keran impor terus dibuka lebar.
Kebocoran Gula Rafinasi Jadi Biang Keladi
Wamentan menyebutkan bahwa lesunya semangat petani untuk menanam tebu bukan tanpa alasan. Ia menuding adanya kebocoran distribusi sebagai penyebab utama ketidakpastian harga di tingkat petani.
“Kenapa petani makin lesu menanam tebu? Jawabannya ada pada pasar. Ada kebocoran. Gula rafinasi yang seharusnya untuk industri, merembes membanjiri pasar konsumsi yang bukan semestinya,” tegas Sudaryono.
Kondisi ini menyebabkan harga gula petani lokal tertekan dan tidak mampu bersaing, sehingga menciptakan tumpukan stok yang tak terserap pasar.
Anggaran Triliunan Terancam Mubazir
Lebih lanjut, Sudaryono memperingatkan bahwa negara telah mengalokasikan anggaran hingga triliunan rupiah untuk mendukung produktivitas petani—mulai dari subsidi pupuk, pengadaan traktor, hingga bantuan bibit unggul. Namun, investasi besar tersebut akan menjadi sia-sia jika persoalan di hilir tidak segera dibenahi.
- Subsidi: Pupuk, bibit, dan alat mesin pertanian (alsintan).
- Risiko: Jika pasar tetap “bocor”, seluruh dana subsidi tersebut akan hangus tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
- Istilah: Sudaryono menyebut kondisi ini sebagai tindakan yang “Muspro” atau sia-sia.
Solusi: Sistem Satu Pintu dan Pengawasan Ketat
Sebagai langkah konkret, Wamentan mendorong adanya pengawasan yang jauh lebih ketat dan penerapan sistem satu pintu untuk tata kelola gula nasional. Tujuannya adalah memastikan perlindungan bagi petani dari hulu hingga hilir.
“Jika hilir aman, petani mendapat jaminan pembelian dengan harga yang bagus. Mereka pasti semangat kembali ke ladang dan produksi akan melonjak pesat,” jelasnya.
Sudaryono optimistis bahwa jika sistem ini diperbaiki, perputaran uang dari subsidi yang diberikan negara tidak hanya akan kembali, tetapi mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga belasan triliun rupiah yang berkontribusi langsung pada kenaikan PDB.
“Jangan biarkan keringat petani terbuang percuma,” pungkasnya di hadapan anggota dewan.










