Bukan Soal Berapa Lama Menatap Layar, Peneliti Ungkap 5 Faktor yang Menentukan Dampak Gadget

Screen Time/Pexels

Selama bertahun-tahun orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan berfokus pada satu ukuran dalam menilai dampak penggunaan gawai terhadap anak, yakni durasi screen time. Namun sebuah kajian terbaru menyebut pendekatan tersebut terlalu sederhana dan berpotensi menyesatkan.

Makalah teoretis yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology menyimpulkan bahwa lama waktu di depan layar tidak cukup untuk menjelaskan dampak teknologi digital terhadap kesehatan maupun perkembangan manusia.

Peneliti dari Pennsylvania State University, Rinanda Shaleha dan Nelson Roque, menilai menyamakan seluruh aktivitas layar hanya berdasarkan jumlah menit penggunaannya sama seperti menilai kualitas pola makan hanya dari total berat makanan yang dikonsumsi.

Menurut mereka, satu jam panggilan video dengan kakek-nenek, satu jam menggunakan aplikasi pendidikan interaktif, dan satu jam menonton video pendek tanpa tujuan akan tercatat sama dalam pengukuran screen time, padahal dampaknya sangat berbeda.

“Yang penting bukan berapa lama seseorang menatap layar, tetapi bagaimana, mengapa, kapan, dan dalam konteks apa teknologi itu digunakan,” tulis peneliti dalam kajian tersebut.

Peneliti menjelaskan konsep screen time lahir pada era ketika televisi menjadi media utama dan aktivitas digital masih bersifat pasif. Saat itu, pengukuran berdasarkan durasi dianggap cukup.

Namun di era digital saat ini, pendekatan tersebut dinilai menciptakan apa yang disebut para akademisi sebagai “kekacauan konseptual” karena menyamakan berbagai bentuk aktivitas digital yang sangat berbeda.

Kajian itu juga menyoroti munculnya stereotip yang lahir dari cara pandang berbasis durasi layar. Anak-anak sering dianggap korban stimulasi berlebihan, remaja dicap kecanduan dan ceroboh, sementara orang dewasa yang menggunakan layar untuk bekerja jarang menjadi perhatian.

Pada kelompok usia lanjut, penggunaan teknologi bahkan kerap dipandang negatif. Padahal sejumlah penelitian yang dikutip dalam makalah tersebut menunjukkan penggunaan layar secara aktif pada orang berusia 40 tahun ke atas justru berkaitan dengan daya ingat yang lebih baik dan tingkat kesepian yang lebih rendah.

Bagi anak-anak, peneliti mencontohkan bahwa balita yang menonton video sendirian memiliki pengalaman yang sangat berbeda dibanding balita yang menonton bersama orang tua yang aktif berdiskusi mengenai tayangan tersebut, meski durasi layarnya sama.

Untuk remaja, faktor yang paling menentukan bukan total waktu penggunaan layar, melainkan kualitas pengalaman yang dialami saat online.

Peneliti mengutip studi intensif yang menemukan bahwa risiko gangguan kesehatan mental pada hari yang sama lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman negatif seperti perbandingan sosial yang berlebihan atau interaksi bermusuhan di media sosial.

Sebaliknya, pengalaman digital yang positif justru berkaitan dengan tingkat tekanan psikologis yang lebih rendah.

Artinya, interaksi negatif singkat di internet dapat memberikan dampak lebih besar dibanding berjam-jam penggunaan layar yang bersifat netral atau positif.

Berdasarkan kajian tersebut, Shaleha dan Roque mengusulkan lima dimensi yang dinilai lebih penting dibanding sekadar menghitung durasi screen time.

Pertama adalah mode keterlibatan, yakni apakah pengguna hanya mengonsumsi konten secara pasif atau berpartisipasi aktif.

Kedua adalah tujuan penggunaan, seperti untuk hiburan, pendidikan, pekerjaan, atau interaksi sosial.

Ketiga adalah struktur konten, apakah berupa konten pendek yang terfragmentasi atau konten panjang yang memiliki tujuan jelas.

Keempat adalah nada emosional dari konten yang dikonsumsi, termasuk kemungkinan paparan materi yang memicu stres, kecemasan, atau emosi negatif lainnya.

Kelima adalah waktu dan konteks penggunaan, misalnya penggunaan gawai pada larut malam yang berpotensi mengganggu kualitas tidur dan regulasi emosi keesokan harinya.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa model yang mereka usulkan masih bersifat teoretis dan belum diuji secara empiris melalui penelitian lapangan.

Makalah tersebut tidak menyajikan eksperimen, survei, maupun studi klinis baru, melainkan dirancang sebagai kerangka konseptual untuk membantu para ilmuwan mengembangkan penelitian yang lebih akurat mengenai dampak teknologi digital di masa depan.

Kajian berjudul “Screen Time in Context: Toward a Theoretical Model of Digital Engagement Across the Lifespan” itu diterbitkan secara daring pada 8 Juni 2026 dalam jurnal Developmental Psychology yang diterbitkan American Psychological Association.