Jangan Percaya Mitos: Ahli Nyatakan Makanan Pedas Tak Sebabkan Kanker Usus Besar

Cabai/Pexels

Sebuah studi kasus-kontrol yang dicocokkan (matched case-control study) yang diterbitkan dalam World Journal of Surgical Oncology membantah anggapan umum yang menghubungkan konsumsi cabai atau makanan pedas dengan risiko Kanker Kolorektal (CRC). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi cabai tidak meningkatkan atau mengurangi risiko kanker kolorektal (CRC).

Para peneliti melakukan studi ini untuk mengeksplorasi hubungan antara asupan cabai dan risiko CRC, karena cabai memiliki sifat yang secara masuk akal dapat meningkatkan atau mengurangi risiko seseorang terkena penyakit tersebut.

Konsumsi Cabai Tinggi Tidak Tingkatkan Risiko

Hasil utama studi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan risiko kanker kolorektal pada individu yang mengonsumsi cabai 3–7 kali per minggu maupun mereka yang mengonsumsi cabai lebih dari 7 kali per minggu (lebih dari sekali sehari).

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cabai tidak meningkatkan atau menurunkan risiko kanker kolorektal,” demikian tulis studi tersebut, dikutip pada Selasa (16/12/2025)

Hasil ini dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi cabai kurang dari atau sama dengan dua kali per minggu. Studi tersebut mencatat bahwa meskipun cabai merupakan makanan pedas dan konsumsi berlebihan dapat merusak mukosa kolon, dan kapsaisin dapat berperan sebagai karsinogenesis yang lemah, kapsaisin juga memiliki efek antikanker.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini melibatkan 800 subjek yang berlokasi di Tiongkok, yang terdiri dari 400 kasus pasien CRC dan 400 subjek kontrol yang menjalani pemeriksaan medis rutin, yang dicocokkan berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Semua subjek adalah orang Han Tionghoa yang telah tinggal di Provinsi Sichuan selama lebih dari 10 tahun. Informasi tentang kebiasaan diet dan gaya hidup, termasuk konsumsi cabai, dikumpulkan melalui wawancara tatap muka, yang merujuk pada kebiasaan 10 tahun sebelum diagnosis penyakit.

Sifat Kapsaisin yang Kompleks

Cabai, yang telah menjadi bagian dari pola makan manusia selama ribuan tahun, mengandung kapsaisinoid, yakni turunan senyawa fenilpropanoid yang bertanggung jawab atas rasa pedas yang kuat. Hubungan antara cabai dan CRC sangat kompleks. Di satu sisi, kapsaisin telah diamati dapat menghambat proliferasi sel CRC, mengganggu aksi beberapa karsinogen kimia, dan mendorong apoptosis (kematian sel).

Namun, ada juga laporan bahwa asupan cabai dapat bertindak sebagai iritan yang menyebabkan reaksi inflamasi yang dapat mendukung perkembangan keganasan, bahkan konsumsi kapsaisin yang berlebihan dikaitkan dengan nekrosis, ulserasi, dan karsinogenesis.

Meskipun demikian, studi ini menemukan bahwa secara keseluruhan, hasil multivariat menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan yang teramati antara konsumsi cabai dan risiko CRC. Penemuan ini bertolak belakang dengan beberapa studi sebelumnya yang menyarankan bahwa asupan kapsaisin dapat menyebabkan kanker gastrointestinal.

Sebagai penutup, para peneliti menyatakan bahwa hasil mereka menunjukkan bahwa konsumsi cabai tidak meningkatkan atau mengurangi risiko CRC, tetapi mereka merekomendasikan perlunya studi dengan penentuan diet yang prospektif dan lebih rinci di populasi dengan asupan cabai tinggi untuk mengklarifikasi lebih lanjut.