Jakarta, Generasi.co — Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan sistem seleksi ketat bagi kapal-kapal komersial yang hendak melewati Selat Hormuz. Jalur perdagangan energi paling vital di dunia ini terputus akibat eskalasi perang yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan terbaru dari perusahaan intelijen maritim Windward, terpantau setidaknya lima kapal berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan melintasi perairan teritorial Iran pada 15-16 Maret 2026.
“Rute baru ini menggambarkan bagaimana blokade selektif Iran telah berkembang untuk memungkinkan sekutu dan pendukungnya untuk transit,” tulis Windward dalam laporannya, dikutip dari AFP.
Lembaga intelijen tersebut menyimpulkan bahwa pergerakan ini menjadi bukti kuat bahwa Iran kini menerapkan sistem “transit berbasis izin dan kontrol penuh” atas selat tersebut.
Rute Khusus untuk Hindari Afiliasi AS
Natasha Kaneva, analis komoditas dari bank JPMorgan, mengonfirmasi pola serupa. Pada Senin lalu, ia mencatat setidaknya empat kapal terlacak keluar dari selat melalui rute Selat Larak-Qeshm, yang berdekatan langsung dengan pesisir pantai Iran, selama dua hari berturut-turut.
“Ini bukan rute standar untuk kapal dan dapat mencerminkan proses yang dirancang untuk mengonfirmasi kepemilikan kapal dan muatan, memungkinkan jalur bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan AS atau sekutunya,” jelas Kaneva dalam catatan resminya.
Salah satu kapal yang berhasil diidentifikasi adalah kapal tanker minyak Karachi berbendera Pakistan. Menurut situs pelacakan MarineTraffic, Karachi berani melintas dengan sistem transponder otomatis (AIS) yang tetap menyala, berbeda dengan mayoritas kapal lain yang memilih mematikan sinyal pelacakan guna menghindari target serangan.
Kaneva menambahkan bahwa sebagian besar pasokan minyak mentah yang berhasil melewati selat tersebut saat ini ditujukan untuk pasar Asia, dengan mayoritas menuju Tiongkok.
Jalur Diplomasi Negara Non-Barat
Selat Hormuz secara efektif telah ditutup oleh Iran sejak terjadinya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Penutupan ini memicu kepanikan global, mengingat setidaknya seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi perairan sempit ini.
Sebagai respons, Amerika Serikat terus mendorong sekutu Baratnya untuk memberikan pengawalan militer bagi pelayaran komersial. Di sisi lain, beberapa negara memilih jalur diplomasi langsung dengan Teheran untuk mengamankan aset mereka.
Langkah diplomasi ini terbukti membuahkan hasil. Akhir pekan lalu, dua kapal tanker berbendera India yang mengangkut LPG berhasil merapat di pelabuhan India setelah melintasi Selat Hormuz, menyusul dialog intensif antara pejabat New Delhi dan Teheran. Hal serupa juga dialami oleh sebuah kapal kargo milik Turki yang sukses melintas berkat izin khusus dari otoritas Iran.










