Sufmi Dasco Ahmad tegaskan efisiensi APBN bukan karena kekurangan dana, melainkan strategi relokasi anggaran, termasuk untuk penguatan pertahanan nasional.
Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad merespons kritik publik terkait keputusan pemerintah membeli 48 jet tempur Kaan dari Turki, di tengah kampanye efisiensi anggaran negara. Dasco menegaskan efisiensi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukanlah tanda negara mengalami krisis keuangan.
“Berulang kali disampaikan bahwa efisiensi APBN itu bukan karena kita tidak ada dana. Tapi efisiensi APBN itu dilakukan untuk melakukan relokasi. (Hasil) dari efesiensi anggaran kemudian dialokasi untuk kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat,” ujar Dasco di kompleks parlemen, dikutip Selasa (5/8/2025).
Dasco, yang juga menjabat Ketua Harian Partai Gerindra, menyatakan pengadaan jet tempur ini merupakan bagian dari rencana pertahanan jangka panjang pemerintah, dan bukan keputusan yang mendadak. Menurutnya, dalam situasi global yang semakin tidak menentu, memperkuat pertahanan nasional adalah kebutuhan strategis.
“Kita perlu juga memperkuat pertahanan kita,” tegasnya.
Sebelumnya, pada Juli lalu, Kementerian Pertahanan resmi menandatangani kontrak pembelian 48 unit jet tempur Kaan buatan Turkish Aerospace Industries. Penandatanganan dilakukan di Istanbul, Turki, pada Sabtu (26/7), dalam rangkaian pameran pertahanan internasional IDEF 2025, dan disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
“Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan government-to-government (G2G) yang telah ditandatangani sebelumnya pada 11 Juni 2025,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen Frega Wenas Inkiriwang, seperti dikutip dari ANTARA.
Jet tempur Kaan merupakan pesawat generasi kelima pertama yang sepenuhnya dikembangkan oleh industri pertahanan Turki, bekerja sama secara teknis dengan BAE Systems dari Inggris.
Pesawat ini dilengkapi dengan kemampuan manuver tinggi, serta dipersenjatai rudal jelajah jarak jauh seperti Stand-Off Missile (SOM) dengan jangkauan lebih dari 250 km.
Sistem radarnya menggunakan teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array) bernama Murad, yang mampu mendeteksi dan melacak beberapa target secara bersamaan, memetakan permukaan tanah dalam resolusi tinggi, serta menyediakan fitur peperangan elektronik seperti pengacauan sinyal dan gangguan radar musuh.
(BAS/Red)










