Jakarta, Generasi.co — Pemerintah melalui Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang tengah bergejolak akibat perang. Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional, khususnya ketersediaan pasokan beras, dalam kondisi sangat kokoh.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menegaskan komitmen negara untuk mengamankan kebutuhan dapur masyarakat selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026.
“Dunia sedang bergejolak. Perang memicu ketidakpastian tingkat global. Warga Indonesia tidak perlu panik. Ketahanan pangan kita kokoh,” tegas Sudaryono dalam unggahannya.
Rincian Pasokan 28 Juta Ton Beras
Guna meredam potensi panic buying dan spekulasi kelangkaan di pasaran, Wamentan merinci total ketersediaan beras nasional yang menyentuh angka fantastis, yakni 28 juta ton.
Berikut adalah postur ketersediaan pangan yang telah diamankan oleh pemerintah:
| Sumber Pasokan | Jumlah Estimasi |
| Cadangan Beras Pemerintah (Perum Bulog) | 4.000.000 Ton |
| Sirkulasi Beras di Pasaran | 12.000.000 Ton |
| Proyeksi Panen Raya Terdekat | 12.000.000 Ton |
| Total Pasokan Nasional Terkonsolidasi | 28.000.000 Ton |
Waspada Hoaks Pemecah Belah di Bulan Suci
Selain memastikan kecukupan pasokan fisik, Sudaryono juga menjamin stabilitas dan keterjangkauan harga pangan di tingkat konsumen. Ia secara khusus memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap penyebaran informasi palsu (hoaks) seputar kelangkaan bahan pokok yang sengaja dirancang untuk memicu keresahan sosial.
“Pemerintah menjamin harga pangan terjangkau. Jangan biarkan provokasi merusak suasana suci Ramadan. Lawan hoaks, tolak fitnah pemecah belah,” imbaunya.
Menutup pernyataannya, Sudaryono menyisipkan pesan patriotik mengenai fondasi utama kekuatan sebuah negara dalam menghadapi krisis global.
“Ingat, kekuatan suatu bangsa diukur atas kemampuan memberi makan warganya. Sambut perayaan Idul Fitri dengan damai. Negara tangguh selalu bermula saat meja makan keluarga tidak pernah kosong,” pungkasnya.










