GENERASI.CO, TANGERANG – Dua inovasi pangan lokal berbasis sains berhasil mengantarkan dua peneliti Swiss German University (SGU), masuk dalam jajaran kandidat Ilmuwan Muda Terbaik di Bidang STEM Tahun 2026.
Dalam penilaian yang digelar LLDIKTI Wilayah IV tersebut, SGU juga sukses mengamankan posisi sebagai kandidat Perguruan Tinggi Swasta Terproduktif di Bidang STEM.
“Masuknya SGU sebagai kandidat Perguruan Tinggi Swasta Terproduktif di Bidang STEM, sekaligus terpilihnya dua peneliti kami sebagai kandidat Ilmuwan Muda Terbaik, merupakan pengakuan atas budaya riset yang terus kami bangun di Swiss German University,” kata Rektor SGU, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo.
Lebih lanjut, Samuel memaparkan bahwa kualitas sebuah riset diukur dari kemampuannya, dalam memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Guna mencapai hal tersebut, SGU berkomitmen mendorong kolaborasi lintas disiplin, dan memperkuat kemitraan industri untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan nasional.
Diketahui, dua dosen sekaligus peneliti yang menjadi kandidat ilmuwan terbaik SGU ialah Assoc. Prof. Dr. Hery Sutanto, S.Si., M.Si. dan Assoc. Prof. Maria Dewi P.T Gunawan Puteri M.Sc., Ph.D.
Hery yang juga Dekan Faculty of Life Sciences and Technology SGU mengatakan, optimalisasi komoditas asli Indonesia sangat penting dilakukan, agar memiliki nilai guna yang jauh lebih tinggi.
Atas dasar itulah, ia melakukan riset mendalam untuk mengolah tanaman kemiri menjadi produk minyak sehat bernama Kemirich Gold.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa, termasuk kemiri yang merupakan salah satu tanaman lokal yang murah, melimpah, dan selama ini hanya dianggap pelengkap dapur,” jelas Hery.
Ia menambahkan, jika diolah dengan benar, kandungan nutrisi minyak kemiri tersebut diklaim mampu menyaingi produk impor.
Minyak nabati ini juga kaya akan Omega 3, 6, 9, DHA, EPA, LA, serta Vitamin E, yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pertumbuhan anak.
Saat ini, merek Kemirich Gold telah terdaftar resmi sebagai Hak Kekayaan Intelektual SGU, serta mengantongi sertifikasi halal dan izin edar BPOM RI.
Produk ini bahkan telah digunakan BAPPEDA Kabupaten Tangerang, sebagai intervensi asupan untuk menurunkan angka stunting.
Sementara itu Maria menuturkan, inovasi di sektor pangan juga berhasil ditorehkan melalui pemanfaatan Tempe Semangit hasil fermentasi lanjutan.
Tidak hanya sekadar melakukan penelitian di laboratorium, ia juga turun langsung memberikan pelatihan produksi, agar warga desa bisa berwirausaha secara mandiri.
“Rhisoya merupakan bumbu tabur tinggi protein berbahan dasar Tempe Semangit, dengan kandungan protein mencapai 70 persen,” ucap Maria terkait produk hasil risetnya.
Ia menerangkan, bumbu tabur ini menghadirkan cita rasa gurih alami, dengan daya serap protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan tempe biasa.
Karakteristik tersebut sengaja dikembangkan, agar menjadi alternatif pangan bergizi yang mudah dan disukai untuk dikonsumsi oleh anak-anak.
Keberhasilan ganda ini mempertegas langkah SGU, dalam mengawal hilirisasi riset agar tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata.
GU dipastikan akan terus memperkuat peran di bidang STEM, guna melahirkan solusi konkret untuk menjawab tantangan masa depan nasional, perkokoh posisi SGU, sebagai institusi pendidikan tinggi yang konsisten menelurkan riset aplikatif di bidang teknologi dan rekayasa.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, SGU berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing bangsa di kancah global. (*)










