Presiden Prabowo: Penambahan Alutsista Jadi Tonggak Penguatan Pertahanan Nasional

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers pada acara penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin, 18 Mei 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

JAKARTA, Generasi.co — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa modernisasi dan penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) terbaru menjadi tonggak krusial dalam menjaga kedaulatan negara. Langkah ini diambil guna merespons dinamika geopolitik global yang kian dipenuhi ketidakpastian.

Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Negara usai memimpin upacara penyerahan deretan alutsista udara canggih di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin (18/5/2026).

“Ini saya kira salah satu tonggak penambahan kekuatan kita,” ujar Presiden Prabowo di hadapan awak media.

Rincian Alutsista Anyar Penjaga Langit Nusantara

Dalam momentum tersebut, Presiden Prabowo menyerahkan sejumlah alutsista mutakhir yang diproyeksikan bakal mendongkrak secara drastis daya gempur dan pertahanan udara Indonesia.

Berikut adalah rincian alutsista baru yang resmi memperkuat TNI Angkatan Udara:

  • 6 unit pesawat tempur MRCA Rafale.
  • 4 unit pesawat jet eksekutif Falcon 8X.
  • 1 unit pesawat angkut berat Airbus A400M.
  • 1 unit rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor (missile meteor).
  • 6 unit bom pintar penyerang darat (smart weapon hammer).
  • 1 unit sistem radar pertahanan udara GCI GM403.

Perkuat Efek Penangkal di Tengah Ketidakpastian Global

Presiden Prabowo menilai, penguatan postur pertahanan negara merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Memiliki kekuatan militer yang disegani (deterrent effect) berfungsi sebagai penangkal utama dari berbagai potensi ancaman asing, sekaligus menjamin stabilitas keamanan dalam negeri.

Meskipun melakukan belanja militer secara masif, mantan Menteri Pertahanan ini menggarisbawahi bahwa doktrin politik luar negeri Indonesia tetap defensif dan bebas-aktif. Indonesia tidak memiliki ambisi ekspansif terhadap negara lain.

“Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” tegas Presiden Prabowo.

Ia menambahkan, kedaulatan sebuah negara adalah jaminan utama agar Indonesia mampu menghadapi tantangan ekonomi dan politik global secara mandiri. “Tapi kita lihat kondisi dunia, geopolitik penuh dengan ketidakpastian, dan kita tahu bahwa pertahanan adalah syarat utama untuk stabilitas, jaminan bahwa kita bisa berdaulat,” tuturnya.

Komitmen Pembangunan Kekuatan Tiga Matra secara Berkelanjutan

Lebih lanjut, Presiden Prabowo memastikan bahwa seremonial penyerahan alutsista ini bukanlah akhir dari modernisasi militer Indonesia. Pemerintah berkomitmen penuh untuk melanjutkan pembangunan kekuatan pertahanan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.

Fokus penguatan ke depan tidak hanya menyasar sektor dirgantara, melainkan mencakup pengamanan total di tiga matra pertahanan, yakni darat, laut, dan udara secara proporsional.

“Dalam waktu yang akan datang, terus akan kita bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita,” pungkas Presiden Prabowo menutup keterangannya.