Rieke Sentil Komnas Perempuan dan HAM: Kok Diam Soal Kasus Aurelie Moeremans?

Rieke Diah Pitalok/Pemkab Cirebon

Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, melontarkan kritik keras terhadap Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan Komnas HAM. Kritik tersebut berkaitan dengan minimnya respons kedua lembaga itu terhadap isu child grooming yang baru-baru ini diungkap oleh artis Aurelie Moeremans.

Hal itu disampaikan Rieke dengan nada emosional dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/01). Politikus PDI Perjuangan ini menyayangkan sikap diam lembaga negara di tengah ramainya perhatian publik terhadap kasus tersebut.

“Saya belum mendengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh, secara serius terhadap kasus ini,” tegas Rieke dalam rapat.

Grooming sebagai Modus Kejahatan

Rieke menyoroti buku digital atau e-book berjudul Broken Strings yang dirilis Aurelie secara gratis. Menurutnya, memoar tersebut bukan sekadar cerita, melainkan indikasi kisah nyata bagaimana masa depan anak dihancurkan akibat pembiaran.

Ia menegaskan bahwa child grooming atau upaya memikat anak di bawah umur bukanlah tindak pidana yang berdiri sendiri, melainkan sebuah metode sistematis.

“Child grooming ini adalah sesuatu yang dalam tanda kutip tabu bagi Indonesia selama ini. Tapi tujuannya akhirnya adalah kekerasan atau eksploitasi seksual,” ujar Rieke.

Rieke menjelaskan modus ini dilakukan pelaku untuk membangun kedekatan emosional dan ketergantungan pada korban yang masih anak-anak atau remaja.

Negara Tak Boleh Diam

Dalam rapat perdana di Komisi XIII tersebut, Rieke mengaku emosional karena menyadari kasus serupa berpotensi menimpa anak-anak lain di Indonesia jika negara tidak hadir.

“Maaf pimpinan saya agak emosional karena ini bisa terjadi pada anak-anak kita. Kasusnya banyak di Indonesia. Untungnya ada anak ini (Aurelie) yang berani ngomong,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen di Komisi XIII untuk bersama-sama memperjuangkan penanganan kasus ini dan mendesak negara untuk bersuara lantang melindungi korban.

Sebagai informasi, Aurelie Moeremans baru-baru ini mengungkap pengalaman pahitnya menjadi korban manipulasi dan grooming saat berusia 15 tahun melalui buku Broken Strings. Ia menceritakan hubungannya dengan pria dewasa berinisial ‘Bobby’ yang usianya terpaut jauh darinya.