Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum yang mencapai 11 juta ton setiap tahunnya. Hal ini dinilai ironis mengingat konsumsi gandum masyarakat lebih banyak terserap untuk mi instan ketimbang roti.
Untuk mengatasi kendala iklim tropis yang menyulitkan budidaya gandum, Sudaryono menggandeng delegasi dari Aljazair guna melakukan riset bersama dan transfer teknologi benih.
“Orang Asia itu unik. Kita jarang makan roti untuk sarapan, tapi kita semua sangat gemar makan mie. Padahal bahan utamanya sama-sama gandum… Akibatnya, meski beras kita aman, kita terpaksa impor 11 juta ton gandum setiap tahun,” ujar Sudaryono dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Belajar Teknologi Benih Aljazair
Sudaryono menjelaskan bahwa kerja sama dengan Aljazair difokuskan pada aspek teknis di lapangan. Negara tersebut dinilai memiliki riset mendalam terkait pemilihan benih yang adaptif terhadap kondisi lahan tertentu.
Ia berharap transfer ilmu ini memungkinkan varietas gandum yang tepat dapat dikembangkan di tanah air, sehingga Indonesia tidak selamanya menjadi “pembeli abadi”.
“Kita ingin pelajari ilmunya agar varietas yang tepat bisa kita kembangkan di tanah air sendiri. Fokus utamanya mengurangi ketergantungan barang luar,” tegasnya.
Demi Kedaulatan Pangan
Politisi Partai Gerindra ini menekankan bahwa urusan perut rakyat tidak bisa ditunda. Baginya, kemampuan memproduksi bahan baku mi secara mandiri akan meningkatkan posisi tawar Indonesia di mata dunia.
“Urusan pangan adalah kedaulatan negara yang paling dasar. Kalau kita bisa mandiri memproduksi bahan baku mie kita sendiri, posisi tawar kita di mata dunia akan jauh lebih kuat,” pungkasnya.










