Wamentan Sudaryono Bawa Pesan Presiden dari OKU Timur: 2025 Wajib Setop Impor Beras, Harga Gabah Kunci di Rp6.500

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono/IG

Ogan Komering Ulu Timur, Generasi.co — Pemerintah mengibarkan bendera kedaulatan pangan dengan target yang sangat ambisius. Dalam lawatannya ke Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membawa pesan mutlak dari Presiden: keran impor beras dari luar negeri wajib ditutup total pada tahun 2025.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menegaskan bahwa visi kemandirian pangan bukan sekadar retorika, melainkan mandat yang harus dieksekusi segera.

“Menapakkan kaki di Ogan Komering Ulu Timur. Presiden menitipkan pesan pangan harus mandiri. Setop impor. Tahun 2025, keran beras luar negeri wajib tutup total,” tulis Sudaryono membagikan arahan Kepala Negara.

Babat Pemborosan demi Modali Petani

Merespons keraguan publik terkait sumber pendanaan untuk mewujudkan swasembada pangan, Sudaryono membeberkan strategi finansial kementeriannya. Ia menyadari bahwa membangun irigasi, menebar pupuk subsidi, mendistribusikan mesin tanam, hingga keberanian pemerintah mengunci harga Gabah Kering Panen (GKP) di angka Rp6.500 per kilogram membutuhkan suntikan dana raksasa.

Langkah taktis yang diambil pemerintah untuk menambal kebutuhan tersebut adalah efisiensi anggaran secara ekstrem.

“Banyak bertanya, uangnya di mana? Jawabannya, efisiensi. Kita babat habis pemborosan,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.

Siasat Lahan Sempit: Genjot Frekuensi Panen

Selain masalah anggaran, Wamentan juga menepis pesimisme sejumlah pihak yang meragukan target swasembada di tengah tren penyusutan lahan sawah nasional. Menurutnya, pihak-pihak yang pesimis tersebut keliru dalam membaca strategi ekstensifikasi pertanian modern.

Kementerian Pertanian kini tidak hanya terpaku pada luasan lahan, melainkan fokus pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP) atau frekuensi panen di lahan yang sudah ada.

“Lahan boleh tetap, tapi frekuensi panen wajib kita dorong terus. Dulu setahun sekali, kini harus berkali lipat. Kita sedang bersama-sama membangun kedaulatan,” paparnya.

Di akhir pernyataannya, Sudaryono memompa semangat para pahlawan pangan nasional untuk terus bergerak cepat agar hasil produksi melimpah.

“Kerja keras hari ini, lumbung melimpah esok hari. Intinya bagaimana petani kita nanam lebih banyak sehingga panen lebih banyak. Nanam lebih cepat sehingga panen lebih cepat,” pungkas Sudaryono.