Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa pihaknya menerapkan prinsip “bantuan dulu, administrasi belakangan” dalam menangani dampak bencana banjir yang melanda sentra pertanian di Sumatera.
Hal tersebut diungkapkan Sudaryono saat menceritakan kembali momen Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI. Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi IV Titiek Soeharto sempat melontarkan pertanyaan menohok mengenai nasib petani yang terdampak bencana.
“Ibu Titiek Soeharto melempar pertanyaan yang menohok logika kita, saat banjir merendam, petani mau makan apa?” tulis Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya, Senin (19/01).
Tabrak Birokrasi demi Warga
Merespons hal itu, Sudaryono menjelaskan bahwa Kementan tidak mau terjebak dalam prosedur birokrasi yang kaku saat kondisi darurat. Ia mencontohkan respons cepat saat menerima laporan dari kepala daerah di tengah malam.
“Ada bupati lapor tengah malam butuh bantuan, langsung kami eksekusi. Urusan surat-menyurat itu belakangan, yang penting beras dan minyak goreng sampai dulu ke tangan warga,” tegasnya.
Meski dihantam bencana parah, Sudaryono mengklaim manajemen logistik pemerintah terbukti tangguh. “Aneh tapi nyata, di tengah bencana parah ini, stok pangan kita justru aman terkendali,” imbuhnya.
Ganti Lahan Hilang dengan Cetak Sawah
Politisi Partai Gerindra ini menegaskan fokus pemerintah kini bergeser dari tanggap darurat ke pemulihan total. Kementan tidak ingin petani terlalu lama menganggur dan hanya mengharapkan bantuan.
Strateginya, lahan rusak ringan akan direhabilitasi segera, sementara lahan yang hilang tersapu banjir akan diganti dengan pembukaan lahan baru.
“Lahan yang rusak ringan langsung kami rehabilitasi, yang hilang kami ganti dengan cetak sawah baru. Mesin-mesin sudah harus menderu di lapangan,” jelas Sudaryono.
Ia menutup pernyataannya dengan komitmen kuat bahwa negara akan selalu hadir dalam situasi terburuk sekalipun.
“Kami pastikan negara hadir bukan hanya saat matahari bersinar, tapi justru saat lumpur setinggi dada,” pungkasnya.










