Generasi.co, Jakarta – Para ilmuwan menemukan bahwa sejumlah peristiwa Super El Niño pada era modern merupakan yang terkuat dalam 1.000 tahun terakhir. Temuan itu didasarkan pada analisis karang purba di Kepulauan Galápagos untuk merekonstruksi perubahan suhu laut selama satu milenium, dilansir melalui Unilad.
Variabilitas suhu laut saat ini tercatat 36,5 persen lebih tinggi dibandingkan masa praindustri. Peneliti menyebut peningkatan tersebut terutama didorong oleh menguatnya peristiwa El Niño yang membawa suhu lebih panas.
Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui apakah perubahan ekstrem El Niño pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 masih berada dalam kisaran alami atau menunjukkan pola yang berbeda. El Niño dan La Niña merupakan perubahan suhu laut yang dapat memengaruhi pola cuaca global, termasuk memicu kekeringan dan banjir.
Peneliti utama Julie Cole, ilmuwan lingkungan dari University of Michigan, mengatakan timnya sebelumnya belum mengetahui seberapa tidak biasa peristiwa El Niño kuat yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
“Kita telah melihat beberapa peristiwa El Niño yang sangat kuat pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, dan yang tidak kita ketahui adalah seberapa tidak biasanya peristiwa tersebut,” kata Cole, dikutip Ars Technica.
Untuk menelusuri kondisi iklim masa lalu, tim Cole menganalisis sampel inti dari karang purba di Galápagos. Lapisan kalsium karbonat pada karang menyimpan perubahan kimia yang dapat digunakan untuk melacak suhu laut dari bulan ke bulan.
Kepulauan Galápagos dipilih karena berada tepat di kawasan Pasifik timur yang menjadi bagian penting dalam pola iklim tersebut. Peneliti juga memeriksa unsur-unsur yang terperangkap dalam lapisan karang untuk merekonstruksi kondisi laut pada masa lalu.
“Ketika suhu semakin hangat, stronsium di dalam karang semakin sedikit,” ujar Cole. Ia mengatakan sampel karang yang diteliti dapat berusia 100 tahun, 200 tahun, hingga 900 tahun atau lebih.
Hasil penelitian menunjukkan perubahan El Niño modern berbeda jauh dari pola pada era praindustri. Variabilitas suhu meningkat 36,5 persen dan peristiwa dengan kondisi lebih hangat menjadi semakin kuat.
“Peristiwa-peristiwa itu sama sekali tidak terlihat seperti yang kita lihat pada era praindustri,” kata Cole.
Tim peneliti kemudian membandingkan temuan tersebut dengan model iklim untuk mengetahui apakah perubahan itu dapat dijelaskan sebagai bagian dari siklus alami. Mereka tidak menemukan bukti dalam model yang menunjukkan bahwa perubahan ekstrem serupa terjadi secara alami.
Cole mengatakan munculnya perubahan cuaca ekstrem di Pasifik timur justru sejalan dengan model yang memprediksi perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Menurut dia, temuan tersebut menunjukkan bahwa penguatan El Niño bukan sekadar kebetulan.
“Ini menunjukkan bahwa apa yang kita lihat bukan kebetulan, melainkan situasi baru untuk El Niño, gaya El Niño yang baru,” ujar Cole.
Ia mengatakan perubahan tersebut dikaitkan dengan pemanasan yang disebabkan penggunaan bahan bakar fosil. Meski demikian, Cole menegaskan penelitian itu belum dapat digunakan untuk memprediksi secara pasti kondisi El Niño pada masa depan.










