Diplomasi ‘Perisai’ Presiden Prabowo: Wamendag Ungkap Alasan Kunjungan Luar Negeri untuk Tangkal Rudal dan Krisis Energi

Presiden Prabowo Subianto memberikan pengarahan pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) seluruh Indonesia yang digelar di Kompleks Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu, 18 April 2026. Foto: BPMI Setpres/Rusman

Surabaya, Generasi.co — Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri, membeberkan alasan fundamental di balik tingginya intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto. Dalam kuliah umum di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Selasa (28/4/2026), Dyah menegaskan bahwa langkah tersebut adalah upaya sadar pemerintah untuk membentengi Indonesia dari badai geopolitik global.

Ia mengeklaim bahwa diplomasi proaktif Presiden berfungsi sebagai “perisai” fisik maupun ekonomi yang memastikan stabilitas nasional tetap terjaga di tengah dunia yang sedang bergejolak.

“Kunjungan Bapak Presiden ke berbagai negara itu sebetulnya untuk mengamankan kita. Dampaknya nyata, kita tidak harus mendengar rudal meledak atau rumah yang dibom. Negara berupaya menyelamatkan masyarakat agar kita bisa fokus pada kehidupan keseharian tanpa dihantui ketakutan perang,” ujar Dyah.

Kemandirian Pangan: Dari Impor Jadi Surplus Ekspor

Dyah menjelaskan bahwa situasi dunia yang tidak menentu justru memacu Indonesia untuk mencapai self-sufficiency atau kemandirian. Salah satu capaian paling signifikan yang ia soroti adalah di sektor pangan, khususnya komoditas beras.

Menurutnya, tekanan global memaksa Indonesia mengoptimalkan sumber daya domestik hingga melampaui target nasional.

  • Produksi Beras: Indonesia kini mencapai status surplus.
  • Potensi Baru: Indonesia mulai menjajaki peluang ekspor beras ke mancanegara, sebuah pencapaian yang dinilai sulit terwujud pada tahun-tahun sebelumnya.

Ketahanan Energi: Subsidi BBM Tetap Kokoh

Selain pangan, sektor energi menjadi bantalan utama stabilitas dalam negeri. Wamendag menyebut Indonesia memiliki keunggulan komparatif karena diversifikasi sumber energi yang lengkap, mulai dari fosil hingga Energi Baru Terbarukan (EBT).

Kekayaan sumber daya ini, yang diperkuat dengan negosiasi diplomatik tingkat tinggi, membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tanah air relatif kebal terhadap fluktuasi pasar global.

“Ketika dunia sedang berhadapan dengan fluktuasi harga BBM, paling tidak BBM yang bersubsidi di Indonesia itu tidak terpengaruh sama sekali. Ini membuktikan bahwa ternyata Indonesia itu mampu,” imbuhnya.

Diplomasi Sebagai Peluang

Penutup kuliah umumnya, Dyah menekankan bahwa tantangan geopolitik saat ini harus dilihat sebagai momentum bagi Indonesia untuk menyadari kekuatannya sendiri. Dengan kombinasi kekayaan sumber daya alam dan aktivitas diplomasi yang lincah, Indonesia diposisikan tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pemain kunci yang aman secara domestik.

“Kita bersyukur negara kita dijaga sedemikian rupa melalui langkah-langkah strategis ini,” pungkas Dyah.