Jakarta, Generasi.co — Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan sekaligus Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, melontarkan kritik tajam terhadap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Kadin dinilai memiliki krisis nasionalisme usai berencana menggandeng investor asing, khususnya dari China, untuk mengamankan pasokan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah Kadin tersebut dinilai justru meminggirkan potensi besar dari puluhan juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tanah Air, dan lebih memihak kepada pengusaha bermodal raksasa serta asing.
“Akhirnya program MBG tampak bergerak menjadi program yang lebih berpihak kepada pengusaha besar dan asing ketimbang UMKM. Apa yang dilakukan Kadin tidak mencerminkan pengusaha pejuang yang memiliki nasionalisme tinggi,” tegas Anwar Abbas dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (24/4/2026).
Alasan Kadin dan Bantahan Keras Anwar Abbas
Anwar Abbas memahami bahwa Kadin bergerak berdasarkan hitungan makro kebutuhan MBG yang memang raksasa. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per 24 April 2026, terdapat 26.487 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap SPPG membutuhkan sekitar 3.000 butir telur untuk satu kali masak. Secara nasional, program ini menyedot hingga 24 juta butir telur per hari (sekitar 700 juta telur per bulan).
Namun, Abbas mempertanyakan langkah pragmatis Kadin yang terlalu cepat mengundang pihak asing dengan alasan stabilitas pasokan, alih-alih memberdayakan peternak lokal.
“Mengapa Kadin terlalu cepat mengundang pihak asing? Jika bisnis dalam dunia unggas dan pengadaan telur ini menguntungkan, tentu pengusaha dalam negeri akan mau terlibat untuk menerjuninya,” imbuhnya.
Hitungan Kertas: UMKM Lokal Bisa Bikin Indonesia “Banjir Telur”
Untuk mematahkan argumen Kadin, Abbas membeberkan hitungan matematis sederhana yang membuktikan bahwa UMKM Indonesia lebih dari mampu untuk menyuplai program MBG tanpa campur tangan investor China.
Merujuk data Kemenko Perekonomian tahun 2025, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 64 juta hingga 65,5 juta unit. Jika pemerintah dan Kadin serius memberdayakan mereka, hasilnya akan jauh melampaui target:
- Pemberdayaan Skala Kecil: Jika hanya 1 juta unit UMKM dilibatkan, dan masing-masing memelihara 1.000 ekor ayam petelur, maka akan ada populasi 1 miliar ekor ayam.
- Produksi Harian: Dengan tingkat produktivitas bertelur hanya 80 persen, skema ini sudah mampu menghasilkan 800 juta butir telur per hari.
- Surplus Pasokan: Jumlah anak usia 0-19 tahun di Indonesia (BPS Maret 2026) hanya sekitar 88 juta jiwa. Artinya, pasokan dari UMKM lokal akan menghasilkan surplus hingga 710 juta butir per hari.
Kembali pada Amanat Konstitusi
Di akhir pernyataannya, Anwar Abbas mengingatkan para pemangku kebijakan dan pemimpin pengusaha agar kembali pada amanat konstitusi UUD 1945, yakni mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran bagi rakyat Indonesia, bukan pihak luar.
“Hendaknya dalam cara berpikir kita sebagai pemimpin, apa-apa yang bisa kita lakukan sendiri janganlah diserahkan kepada asing, tapi kerjakanlah sendiri,” pungkasnya.










