Washington, Generasi.co — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terang-terangan mengeluarkan perintah eskalatif kepada Angkatan Laut AS untuk mengambil tindakan mematikan terhadap kapal mana pun yang kedapatan memasang ranjau di jalur urat nadi minyak dunia, Selat Hormuz.
Perintah keras ini menandai peningkatan tajam konflik antara Washington dan Teheran, yang sejak akhir Februari 2026 lalu telah melumpuhkan aktivitas pelayaran komersial di kawasan tersebut.
“Tidak boleh ada keraguan. (Saya memerintahkan Angkatan Laut AS untuk) menembak dan membunuh kapal mana pun yang memasang ranjau,” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social, Kamis (23/4/2026) waktu setempat.
Trump juga menginstruksikan armada kapal penyapu ranjau AS untuk membersihkan jalur Selat Hormuz dengan kecepatan dan intensitas yang ditingkatkan hingga tiga kali lipat.
Blokade Angkatan Laut dan Klaim Kendali Total AS
Guna menekan Teheran agar membuka kembali selat tersebut secara penuh, Washington saat ini tengah memberlakukan blokade angkatan laut yang ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa hingga saat ini, militer AS telah mencegat dan memaksa 31 kapal untuk berbalik arah kembali ke pelabuhan sebagai bentuk penegakan blokade.
Dalam serangkaian unggahan provokatifnya, Trump mengklaim bahwa hegemoni di Selat Hormuz kini berada sepenuhnya di tangan militer Amerika, bukan lagi di bawah kendali Teheran.
“Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Jalur itu ‘tertutup rapat,’ sampai Iran mampu membuat sebuah KESEPAKATAN!!!” tegas Trump.
Sikap agresif ini diperkuat ketika kurang dari 15 menit kemudian, Trump membagikan ulang sebuah artikel opini dari Washington Post berjudul “Trump doesn’t need a deal to get what he wants from Iran” dengan tambahan komentar, “Sangat benar!!!”
Urat Nadi Minyak Dunia Lumpuh, Iran Tolak Mundur
Dampak dari eskalasi ini langsung memukul keras pasar logistik global. Selat Hormuz, yang dalam kondisi normal menjadi rute bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kini nyaris mati suri.
Sebelum konflik pecah, lebih dari 100 kapal (termasuk puluhan tanker minyak raksasa) melintasi selat ini setiap harinya. Namun, sejak Iran secara de facto menutup jalur tersebut, volume lalu lintas anjlok tajam menjadi hanya satu digit.
Berdasarkan data pelacakan dari London Stock Exchange Group (LSEG), pada hari Rabu (22/4/2026), tercatat hanya delapan kapal yang berani melintas, dan hanya tiga di antaranya yang merupakan kapal tanker minyak.
Sementara itu, dari pihak Iran, penolakan keras terus disuarakan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan militer Washington.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama blokade Amerika Serikat masih berlangsung,” kecam Ghalibaf, mengisyaratkan bahwa kebuntuan geopolitik ini masih akan berlangsung panjang.










