Kurang Gerak Lebih dari 10 Jam Sehari, Risiko Kematian Kardiovaskular Naik

Simbol Jantung/Pexels

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa terlalu lama duduk atau berbaring—lebih dari 10,5 jam per hari—berkaitan dengan peningkatan risiko gagal jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskular, bahkan pada orang yang rutin berolahraga.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 89 ribu peserta ini menegaskan bahwa aktivitas fisik saja tidak cukup untuk melindungi kesehatan jantung jika sebagian besar waktu dihabiskan dalam kondisi sedentary atau minim gerak.

Duduk Terlalu Lama, Risiko Jantung Meningkat

Temuan tersebut berasal dari studi yang dipublikasikan pada 15 November 2024 di Journal of the American College of Cardiology (JACC) dan dipresentasikan dalam Sesi Ilmiah American Heart Association 2024. Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu duduk atau rebahan yang berlebihan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian.

“Temuan kami mendukung pentingnya mengurangi waktu duduk untuk menurunkan risiko kardiovaskular, dengan 10,5 jam per hari sebagai batas yang berpotensi memicu peningkatan risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular,” ujar Shaan Khurshid, MD, MPH, ahli jantung dari Massachusetts General Hospital sekaligus penulis senior studi ini.

Ia menegaskan, terlalu banyak duduk atau berbaring tetap berbahaya bagi jantung, bahkan bagi mereka yang telah memenuhi rekomendasi olahraga mingguan.

Olahraga Penting, Tapi Tidak Cukup

Pedoman kesehatan saat ini merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per minggu untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, menurut para peneliti, olahraga hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan aktivitas harian.

Gaya hidup modern yang didominasi duduk—baik di kantor, kendaraan, maupun di rumah—belum banyak diatur dalam pedoman kesehatan, meskipun bukti ilmiah menunjukkan kaitan langsung antara perilaku sedentary dan risiko penyakit jantung.

Studi ini secara khusus meneliti hubungan antara durasi duduk dengan kejadian fibrilasi atrium, gagal jantung, serangan jantung, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Data dan Ambang Batas Risiko

Penelitian menganalisis data 89.530 peserta UK Biobank dengan usia rata-rata 62 tahun, di mana 56,4 persen di antaranya adalah perempuan. Aktivitas peserta dipantau menggunakan akselerometer di pergelangan tangan selama tujuh hari. Rata-rata waktu duduk harian tercatat sekitar 9,4 jam.

Selama masa tindak lanjut rata-rata delapan tahun, tercatat 3.638 peserta mengalami fibrilasi atrium, 1.854 mengalami gagal jantung, 1.610 mengalami serangan jantung, dan 846 meninggal akibat penyakit kardiovaskular.

Hasilnya menunjukkan bahwa risiko fibrilasi atrium dan serangan jantung meningkat seiring bertambahnya waktu duduk. Sementara itu, risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular relatif stabil hingga waktu duduk melampaui 10,5 jam per hari, sebelum kemudian meningkat tajam. Pola ini menunjukkan adanya “ambang batas” risiko pada durasi sedentary tertentu.

Mengurangi Duduk, Menyelamatkan Jantung

Bagi peserta yang rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, dampak duduk lama terhadap risiko fibrilasi atrium dan serangan jantung memang berkurang. Namun, risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular tetap meningkat jika waktu duduk terlalu lama.

“Artinya, selain mendorong olahraga, kita juga harus menekankan pentingnya mengurangi waktu duduk,” kata Khurshid. “Menghindari duduk atau rebahan lebih dari 10,5 jam sehari bisa menjadi target minimal yang realistis.”

Dalam editorial pendamping, Charles Eaton, MD, MS, dari Brown University menyebut bahwa mengganti 30 menit waktu duduk setiap hari dengan aktivitas fisik—bahkan yang ringan—dapat memberikan dampak nyata bagi kesehatan jantung.

Menurutnya, aktivitas intensitas sedang hingga berat dapat menurunkan risiko gagal jantung hingga 15 persen dan kematian kardiovaskular sebesar 10 persen. Sementara aktivitas ringan pun tetap bermanfaat dengan menurunkan risiko gagal jantung sebesar 6 persen dan kematian kardiovaskular sebesar 9 persen.

Pemimpin Redaksi JACC, Harlan M. Krumholz, MD, SM, menegaskan bahwa studi ini memperkuat bukti hubungan erat antara perilaku sedentary dan kesehatan jantung.

“Temuan ini menunjukkan dengan jelas bahwa mendorong masyarakat untuk lebih banyak bergerak adalah kunci menuju kesehatan yang lebih baik,” ujarnya.