Prabowo Bertemu Bos Konglomerasi Rusia: Bahas Potensi Investasi Sektor Kesehatan

Presiden RI Prabowo Subianto (Sumber: Instagram @presidenrepublikindonesia)
Presiden RI Prabowo Subianto (Sumber: Instagram @presidenrepublikindonesia)

Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan pimpinan perusahaan konglomerasi asal Rusia, AFK Sistema PAO, di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (20/11). Pertemuan itu menjadi tindak lanjut diskusi sebelumnya yang berlangsung di St. Petersburg pada pertengahan tahun.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Co-founder AFK Sistema Vladimir Yevtushenkov, serta Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov.

“Pertemuan ini melanjutkan pembahasan kita di St. Petersburg beberapa bulan lalu. Hari ini kita mem-follow up sejumlah peluang kerja sama,” kata Rosan usai pertemuan.

Rosan mengungkapkan pembahasan utama adalah potensi investasi di sektor kesehatan. Sistema disebut sedang menjajaki kerja sama dengan Biofarma dan Kimia Farma, termasuk dalam produksi obat dan pengembangan fasilitas kesehatan.

Menurut Rosan, Sistema merupakan operator rumah sakit terbesar di Rusia, mengelola lebih dari 160 unit dan memiliki perusahaan farmasi serta paten obat dalam skala besar.

“Harapannya, kerja sama ini bisa membantu menurunkan harga obat yang masih relatif tinggi di Indonesia dibandingkan banyak negara lain,” ujarnya.

Selain kesehatan, kedua pihak juga membahas rencana produksi kapal listrik penumpang berkapasitas 100–200 orang untuk mendukung transportasi antar-pulau. Rosan menyebut diskusi teknis sudah berjalan, termasuk kemungkinan pembangunan fasilitas manufaktur kapal di Indonesia.

“Mereka berencana membuat pabriknya di sini,” katanya.

AFK Sistema juga menyatakan minat untuk terlibat dalam sektor perhotelan. Mereka dikabarkan tengah mempelajari opsi untuk mengelola jaringan hotel yang sudah ada di Tanah Air.

Bidang pendidikan turut masuk agenda pembahasan. Rosan menyebut ada rencana Sistem untuk mengirim tenaga pengajar guna membuka pelatihan bahasa Rusia di sejumlah universitas Indonesia.

Meski berbagai potensi proyek telah dibahas, Rosan mengatakan langkah ini masih dalam tahap awal sehingga belum dapat disampaikan nilai investasi yang dipertimbangkan.

“Masih early stage. Jadi belum bisa menyebut angka,” ujarnya.

Pertemuan ini menandai semakin intensifnya upaya pemerintah menarik investasi asing dalam berbagai sektor strategis, sekaligus memperluas kemitraan ekonomi dengan Rusia.